|
3
kembali ke
mal
dengan isi
dompet yang
lebih tebal
nilainya. Untuk itu idealnya mereka
pun
termotivasi untuk mencari
penghasilan
yang lebih
besar
lagi.
Tentunya
untuk itu
dia
harus
bekerja
lebih
keras
lagi. Ketika
itu
sudah
terpenuhi
lalu
mereka
kembali
ke
mal
dan
belanja dengan jumlah
barang-barang yang bervariasi. Ada
beberapa konsumen yang
bersikap
rileks dan tidak menjadi
beban pikiran
kalau mereka tidak
mampu
membeli
sesuatu
di
dalam
mal.
Alasannya,
berkunjung ke
mal
ada
sisi
hiburannya.
Mengutip hasil
riset
AC NIELSEN, sekjen DPP Aprindo (Asosiasi Pengusaha
Rite!
Indonesia) Tutum
Rahanta
menyatakan bahwa
93
persen
konsumen
Indonesia
menganggap
belanja
sebagai hiburan dan rekreasi, itu indikasi pentingnya tempat
belanja
sehingga
peritel
mempunyai
tantangan agar
tokonya tetap
dikunjungi (Ina,2009).
Adanya unsur
rekreasi dan hiburan
dalam
kunjungan
ke mal juga
ditemukan
dalam
penelitian
sebelumnya
yang menerangkan
bahwa
konsumen
memandang
aktifitas
berkunjung
ke
mal
baik
secara
umum
maupun
sebagai
pengalaman khusus
yang
bersifat
entertaiment atau rekreasi
(Ibrahim dan Wee, 2002).
Dengan
semakin
ketatnya
persaingan
antar pusat
perbelanjaan
dan
berubahnya
gaya
hidup konsumen dalam
berbelanja, maka
pengelola
pusat
perbelanjaan
harus
bisa
bersaing untuk menarik
pengunjung.
Untuk
itu,
pengelola
diharapkan mengetahui
siapa
pasar yang
akan
dituju
dan
apa alasan
orang-orang
berbelanja, supaya mereka
dapat
menawarkan
sesuatu
yang
memang
sesuai dengan
kebutuhan
pembelanja.
Selain
itu
pentingnya
unsur
hiburan
dalam segi aktifitas kunjungan
saat ini mengharuskan
pengelola
mal menerapkan
strategi
pemasaran
yang
dapat
menciptakan
pengalaman
berkunjung ke mal yang
menyenangkan bagi konsumen.
Beberapa karakteristik
dari pengalaman
berkunjung
yang menyenangkan
juga
sudah banyak diteliti, misalnya adanya kesempatan
untuk
mencari
barang,
lingkungan
|