|
22
d.
Personifikasi
atau
Prosopopoeia;
gaya
bahasa
kiasan
yang
menggambarkan
benda-benda
mati
atau
barang-barang yang
tidak
bernyawa
seolah-olah
memiliki sifat kemanusiaan.
e.
Alusi;
acuan
yang
berusaha
mensugestikan
kesamaan
antara
orang,
tempat,
atau peristiwa.
f.
Eponim;
gaya
di
mana
seseorang
yang
namanya
begitu
sering
dihubungkan
dengan sifat tertentu, sehingga nama itu dipakai untuk menyatakan sifat itu.
g.
Epitet;
acuan
yang
menyatakan
suatu
sifat
atau
cirri
yang
khusus
dari
seseorang atau sesuatu hal.
h.
Sinekdoke; bahasa figuratif yang mempergunakan
sebagian
dari
sesuatu
hal
yang
menyatakan
keseluruhan
(pars
pro
toto)
atau
mempergunakan
keseluruhan untuk menyatakan sebagian (totum pro parte).
i.
Metonimia;
gaya
bahasa
yang
mempergunakan
sebuah
kata
untuk
menyatakan suatu hal lain, karena mempunyai pertalian yang sangat dekat.
j.
Antonomasia;
sebuah
bentuk
khusus
dari
sinekdoke
yang
berwujud
penggunaan sebuah epiteta untuk mengartikan nama diri, atau gelar resmi, atau
jabatan untuk menggantikan nama diri.
k.
Hipalase;
gaya
bahasa
di
mana
sebuah kata
tertentu
dipergunakan
untuk
menerangkan sebuah
kata,
yang seharusnya dikenakan pada sebuah kata yang
lain.
l.
Ironi,
Sinisme,
dan
Sarkasme;
Ironi
atau
sindiran
adalah
suatu
acuan
yang
ingin mengatakan sesuatu dengan makna atau maksud berlainan dari apa yang
terkandung
dalam rangkaian
kata-katanya.
Sinisme
merupakan
suatu
sindiran
yang berbentuk kesangsian yang mengandung ejekan terhadap keikhlasan dan
ketulusan hati. Sarkasme merupakan acuan yang mengandung kepahitan dan
celaan yang getir.
m.
Satire; uraian yang harus ditafsirkan lain dari makna permukaannya.
n.
Inuendo; semacam sindiran dengan mengecilkan kenyataan yang sebenranya.
o.
Antifrasis;
ironi
yang berwujud penggunaan sebuah kata dengan
makna
kebalikannya,
yang
bisa
saja
dianggap
sebagai
ironi
sendiri,
atau
kata-kata
yang dipakai untuk menangkal kejahatan, roh jahat dan sebagainya.
p.
Pun atau paronomasia; kiasan dengan mempergunakan kemiripan bunyi.
(Keraf, 1980: 136-144)
|