|
11
memiliki implikasi pada makna memuja. Pengertian kami tidak bisa diterjemahkan
secara
tepat,
karena
merujuk
pada
banyak
arti.
Dahulu
gejala-gejala
alam seperti,
pertumbuhan
dan
kesuburan
dianggap
sebagai kami.
Matahari,
gunung,
sungai,
pohon,
bebatuan, dan juga binatang, semua mengandung kami tersendiri. Kini konsep dari kami
pun
mulai berkembang
mencakup tokoh-tokoh pahlawan dan bahkan arwah para
leluhur
dan nenek moyang keluarga juga dianggap sebagai kami (Ono, 1992 : 6-7).
Menurut
Inohana
dan
Edizal
(2002
:
95),
di
dalam Shinto
tidak
ada
kitab
suci,
seperti yang tertulis pada kutipan berikut ini ;
????????????????????????????????
????????????????????????????????
????????????????????????????????
??????????????????
Arti
:
Di dalam Shinto tidak ada doktrin ataupun kitab suci,
namun kepercayaan
ditunjukkan
dengan
perayaan.
Sebelum
adanya
kuil
Shinto
(jinja),
rakyat
biasanya
mendatangi berbagai tempat alam untuk
memuja kami. Pada salah satu
tempat tertentu, mereka berkumpul pada hari tertentu, mengundang datang dewa,
dan mengungkapkan rasa terima kasih dengan memberikan persembahan.
Untuk
menghormati kami,
mereka
mengundang kami dan
mengadakan perayaan
makan dan minum bersama kami, serta mempersembahkan beras yang baru panen
kepada kami. Dengan makan beras baru pada perayaan panen padi bersama kami,
mereka percaya dapat bersatu dengan
jiwa kami dan
memperoleh
tenaga
gaib dari kami
(Inohana dan Edizal, 2002 : 95-96).
Meskipun
tidak
memiliki
kitab
suci,
namun
Shinto
memiliki Nihon
Shoki
dan
Kojiki. Nihon Shoki adalah sebuah buku yang menceritakan tentang sejarah Jepang,
sedangkan Kojiki merupakan catatan kuno mengenai Shinto. Di dalam Kojiki diceritakan
mengenai asal-usul terciptanya pulau Jepang. Di dalamnya terdapat cerita mengenai
Izanagi dan Izanami yang menciptakan pulau Jepang dan terlahirnya dewa-dewa Shinto.
|