|
12
Izanagi adalah kami dalam wujud
laki-laki
sedangkan Izanami adalah kami dalam wujud
perempuan. Dewa-dewa Shinto tercipta saat Izanagi no Mikoto sedang membasuh diri di
dataran Awagi daerah Tachibana. Saat Izanagi membasuh mata kirinya, maka terlahirlah
dewi Amaterasu Omikami. Saat Izanagi membasuh mata kanannya, terlahirlah
Tsukiyomi no Mikoto, dan saat membasuh hidungnya maka lahirlah Susano o Mikoto
(Barrish, 1999).
Di
dalam Shinto
tidak
terdapat
suatu
perintah
mutlak
atau
kewajiban
khusus
selain
kesedehanaan
dan
keharmonisan hidup
dengan
alam dan
manusia
bagi
pengikutnya,
namun
ada
empat
hal
penegasan
di
dalam
jiwa
Shinto
(Robinson,
2006)
yaitu ;
1. Tradisi
dan
keluarga
:
keluarga
dipandang
sebagai
unsur
utama
dalam
menjaga tradisi dan hal ini berhubungan dengan pernikahan dan kelahiran.
2. Kecintaan pada alam : alam dianggap suci, berhubungan dengan alam berarti
mendekat
kepada kami, karena
setiap
benda
alam
mengandung
unsur
kami
yang suci.
3.
Kebersihan fisik : para pengikut Shinto sering melakukan pembersihan diri
seperti mandi, mencuci tangan, dan berkumur.
4. Matsuri : festival yang diadakan setiap tahunnya ditujukan kepada kami.
Menurut Ono (1992:51), terdapat empat unsur dalam pemujaan pada ajaran
Shinto. Yang pertama yaitu penyucian (harai) yang bertujuan untuk menghilangkan
semua kotoran, kejahatan, serta hal-hal negatif lainnya. Untuk media dari penyucian ini
biasanya
menggunakan
air
atau
garam.
Penyucian
dapat
dilakukan
dengan
sendirinya
atau pun secara
formal
yang dilakukan oleh pendeta Shinto. Bila dilakukan sendiri
yaitu
dengan
membasuh
tangan
dan
berkumur
yang
biasa
disebut
dengan
temizu.
Penyucian
|