Home Start Back Next End
  
13
yang dilakukan dengan mandi disebut dengan misogi. Upacara penyucian seluruh negeri
yang dilakukan oleh pendeta Shinto disebut dengan ooharai yang secara
harafiah berarti
penyucian  besar.  Untuk  penyucian  kuil,  gedung  atau  bangunan  lainnya  dilakukan
dengan membersihkan seluruh isi bagian
bangunan dan menyapu daerah sekitarnya.
Penyucian merupakan unsur yang paling vital dalam pemujaan.
Selain
itu
terdapat
beberapa
benda yang
dipercaya
dapat
menyucikan
serta
melindungi
dari
roh-roh
jahat
dan
hal-hal
negatif
lainnya
seperti
bambu, shimenawa,
tumbuhan sakaki
dan cemara. Dengan menaruh benda-benda tersebut di suatu tempat
menandakan 
bahwa 
tempat 
tersebut 
telah 
disucikan. 
Penggunaan 
tumbuhan 
hijau
tersebut
merupakan
hal
yang
vital dalam agama Shinto, karena tumbuhan
hijau tersebut
akan
menjadi
tanda atau penunjuk jalan bagi kami untuk datang berkunjung. Shimenawa
sering
digunakan
di
kuil-kuil
Shinto
untuk
mencegah
masuknya
roh
jahat
(Sakurai,
1991 : 40-42).
Berkaitan
dengan
penyucian,
di
dalam Shinto
juga
terdapat
ajaran mengenai
ketercemaran atau ketidaksucian (kegare). Maksud dari ketercemaran
ini
adalah sesuatu
yang dianggap kotor atau tercemar. Adapun hal-hal yang dianggap tercemar diantaranya
adalah kematian, kecelakaan, penyakit, menstruasi, dan darah. Biasanya di rumah orang
yang meninggal digantung kertas putih di atas altar Shinto (kamidana) yang
dipercaya
dapat melindungi diri dari ketercemaran (Kato, 1971 : 113).
Unsur
kedua
yang
terpenting
dalam pemujaan
pada
ajaran
Shinto adalah
persembahan
(shinsen).
Bentuk
dari
persembahan
ini
bisa
dibedakan
menjadi
empat
jenis yaitu berupa; uang, makanan atau minuman, material (barang), dan benda simbolis
(Ono, 1992 : 53).
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter