|
14
Persembahan
berupa
uang
yaitu
dengan
melempar
koin
ke
dalam kotak
suci.
Bentuk
lain
dari
persembahan
uang
adalah
dengan
mendonasikan
uang
kepada
kuil
untuk kepentingan kuil serta keperluan perbaikan kuil. Ada pula orang yang
memberikan
sejumlah
uang
di
dalam amplop
putih
secara
formal
kepada
penanggung
jawab kuil (Ono, 1992 : 53).
Persembahan
makanan
dapat
berupa
makanan
yang
sudah
diolah
maupun
sebelum diolah,
namun
umumnya persembahan
makanan
ini berupa beras,
ikan, sayuran,
rumput laut, buah, dan kue. Beras dipersembahkan di banyak kesempatan dalam
perayaan
dan
ritual-ritual
Shinto,
baik
dalam bentuk
beras,
maupun
sesudah
diolah
menjadi
kue
beras
yang
dikenal
dengan
mochi.
Beras
merupakan
persembahan
dan
pujian
kepada
dewa
di
Jepang.
Persembahan
minuman
biasanya
berupa sake
yang
juga
terbuat dari beras. Sake dipercaya merupakan minuman bagi kami (Ono, 1992 : 54).
Menurut Urata (2006), dahulu beras merupakan
makanan
khusus
yang
hanya
digunakan di acara-acara tertentu. Umumnya hasil panen pertama dijadikan
persembahan untuk dewa. Di dalam Shinto, setiap butir beras melambangkan jiwa
manusia (tamashii).
Persembahan berupa material (benda) umumnya seperti sutra, kertas, kain katun,
perhiasan, atau peralatan pertanian. Bahkan
dahulu
ada
yang
mempersembahkan
benda
berupa senjata seperti pedang, senapan, dan panah pada kami (Ono, 1992 : 54).
Persembahan simbolis biasanya adalah ranting tumbuhan
sakaki
yang
sudah
ditempeli dengan kertas putih
yang disebut dengan tamagushi. Selain
itu ada pula gohei
yang terbuat dari dua buah shide yang ditempel pada sebuah tangkai kayu atau bambu
yang
dijadikan
persembahan
pada
kami.
Berbagai
macam
pertunjukan
seperti
tarian,
|