Home Start Back Next End
  
15
drama, atau sumo juga
merupakan sebuah persembahan simbolis
yang ditujukan kepada
kami (Ono, 1992 : 55).
Menurut
Kato
(1973
:
94),
di
dalam persembahan,
dahulu
juga
digunakan
persembahan berupa kuda putih, babi jantan putih, atau rusa putih. Alasan menggunakan
binatang berwarna putih ini adalah karena warna putih melambangkan kesucian di dalam
agama Shinto. Satu
hal
yang paling penting dalam persembahan berupa binatang adalah
tidak
boleh
ada
darah
yang
terlihat
dalam
persembahan
yang
tidak
dimasak
(mentah),
karena
darah
dianggap
tercemar
dalam agama
Shinto.
Selain
itu,
Takemoto
(2006),
mengemukakan
bahwa
kertas
putih
juga
sering
digunakan
dalam
ritual
Shinto
sebagai
simbol penyucian
yang dapat
melindungi dari ketercemaran seperti
halnya shide (kertas
berbentuk zigzag) yang sering digunakan dalam berbagai ritual Shinto.
Unsur
yang
ketiga
dalam pemujaan
Shinto
adalah
permohonan
(norito).
Yang
dimaksud  dengan  norito  ini  upacara  permohonan  yang  dilakukan  di  kuil.  Biasanya
norito dipimpin oleh kepala pendeta Shinto (kannushi) yang melantunkan doa dengan
nada 
yang  ditujukan  kepada  kami.  Dalam  mengucapkan  norito,  ada  aturan-aturan
tertentu seperti, doa dibuka dengan kata-kata pujian kepada kami, membuat sedikit
keterangan spesifik mengenai ritual, menunjukkan rasa syukur kepada kami,
menyebutkan satu persatu persembahan yang diberikan, lalu menyebutkan nama dan
status dari pemimpin doa tersebut, dan terakhir menambahkan sedikit kata-kata yang
menunjukkan rasa hormat dan hutang budi kepada kami (Ono, 1992 : 55-56).
Unsur
yang
terakhir
adalah pesta
jamuan
sakral
atau
suci
(naorai)
setelah
perayaan. Di setiap akhir dari
upacara atau perayaan Shinto terdapat sebuah pesta sakral
yang
disebut
dengan
naorai
yang
berarti
”makan
bersama-sama
dengan kami”.
Bentuk
formal dari pemujaan
ini
adalah
meminum
seteguk sake yang dituangkan oleh pendeta
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter