|
22
yang
ia terima.
Untuk
mencegah
pandangan
buruk
tersebut,
orang
Jepang
memilih
membayarkan
giri
mereka
dalam
jumlah
yang
sesuai
dengan
yang
sudah
ia
terima.
Hal
ini juga terungkap
oleh
Minamoto
dalam Davies
dan Osamu (2002:97)
yang
mengatakan
bahwa
jika
seseorang
menerima
sebuah
hadiah
dari
orang
lain,
ia harus
mengembalikannya
dalam
harga yang
sama.
Dengan
demikian
tujuan
harmonisasi
dari
sebuah hubungan sosial antar manusia dapat terwujud karena mengikuti norma dan
aturan yang telah menjadi budaya dalam masyarakat Jepang.
Pada intinya,
bagaimana
pun
kondisi
sebuah
giri tetaplah
sesuatu
yang
menuntut
seseorang
untuk
bisa memenuhi
kewajibannya.
Meskipun
dikatakan
Benedict
(1996:135)
bahwa giri tidak menggunakan
hati saat melakukannya.
Sementara
itu menurut
Fukutake
(1989:142)
mengatakan
bahwa
disebagian
tempat
anak-anak
tumbuh
dengan
memperhatikan
apa
yang
mereka
tampilkan
dan
kewajiban
giri sehingga
mengirimkan
moral
mereka
ke dalam sebuah
pemikiran
mengenai:
jangan
lakukan
itu
atau
orang
akan
menertawakan
kamu,
maka
kamu
akan
kehilangan
muka.
Dengan begitu, berarti setiap
individu, terlepas usia, memang harus mematuhi giri
supaya
mereka
bisa diterima
masyarakat
luas dengan
reputasi
yang
baik.
Hal
ini
berhubungan
dengan
giri terhadap
nama
baik seseorang,
dimana
setiap individu
sudah
memiliki
kewajiban
dan tanggung
jawab
yang
kuat
untuk
menjaga
nama
baik
dirinya
sendiri, terutama orang lain.
Pada
akhirnya,
mengingat
manusia
tidak
bisa hidup
sendiri
dan
membutuhkan
orang
lain,
maka giri
pun pada akhirnya
yang
mengikat
manusia
untuk bisa memiliki
perasaan
saling
ketergantungan.
Seperti
dikatakan
oleh
Doi
(1992:31)
bahwa
giri mengikat
hubungan
antara
manusia
dalam
hubungan
ketergantungan.
Giri memang
membuat
manusia
melakukan
hubungan
timbal
balik
atau
tindakan
berbalasan
untuk
bisa
saling
|