19
mempertunjukkan
kelakuan
yang
tidak
pantas.
Morita
(1994:21)
juga
menambahkan
ijime terjadi di antara teman sekelas dan anggota dari ekstrakurikuler sekolah.
Dalam Nihon
Kodomo
Wo
Mamorukai
(1995)
mengatakan
bahwa
dilihat
dari
tempatnya,
ijime
kebanyakan
dilakukan
di
dalam
kelas
atau
tempat
dimana
mereka
paling
sering
berinteraksi,
seperti
dalam
ekstrakurikuler
sekolah.
hal
ini
terjadi
karena
pada jaman sekarang ini Jepang hanya menyediakan sedikit tempat bermain, dan juga
waktu serta teman bermain yang kurang untuk anak-anak melepaskan kepenatan mereka.
Namun ada juga anak yang melakukan ijime bukan karena ia benar-benar memiliki
kepentingan langsung dengan
ijimekko, tapi ia melakukan ijime
karena
ia
melihat
temannya
melakukan ijime
dan
dia
ikut-ikutan
melakukan
ijime
karena
menyenangkan.
Bisa dikatakan anak seperti ini hanya mengikuti kelompoknya saja. Ini juga
merupakan
salah satu cara agar ia bisa diterima oleh kelompoknya.
Ijime lebih sering diaplikasikan
secara
psikologi
atau mental
dibandingkan
secara
fisik.
Berdasarkan
hasil
laporan
yang
telah
dikumpulkan
oleh
para
guru
pada
tahun
2002-2003, tipe ijime
yang
paling
sering
ditemui
adalah mencibir
(31.6%),
penghinaan
secara
verbal
(17.9%),
kekerasan
fisik
(14.9%),
pengasingan
dalam pergaulan
(14.2%),
pencurian
(7.6%),
menjauhkan diri
(5.2%), pemerasan (2.2%), pengusikkan
(1.3%), dan
lainnya (5.1%) (Ishikada, 2005:141).
Di
sekolah-sekolah,
mengganggu
atau bullying
atau ijime
biasa
terjadi
di
semua
area
sekolah.
Biasanya
paling
sering
terjadi
di tempat
bimbingan
belajar,
saat
istirahat
siang, di
lorong sekolah, di toilet, di bus
sekolah, di dalam kelas-kelas
yang biasanya di
butuhkan kerja kelompok dan/atau setelah aktifitas sekolah. Kadang-kadang ijime di
sekolah terdiri dari murid-murid yang mengambil keuntungan dari atau mengisolasi satu
murid dan mendapatkan loyalti dari seseorang yang memihak pada ijimekko karena takut
|