12
Berikut merupakan beberapa alasan terjadinya tindak ijime:
1.
Mereka akan
merasa sedih atau
marah atau karena
mereka
tidak dapat
masuk
dalam kelompoknya.
2.
Mereka ingin terlihat kuat dan terlihat memamerkan kekuasaan mereka.
3.
Mereka
sendiri
merupakan
korban
ijime
yang
dilakukan
oleh
anggota
keluarga.
4.
Mereka yang takut diganggu jadi mengganggu lebih dahulu.
5.
Jika mereka merasa tidak puas, mereka melampiaskan perasaan ini pada orang
lain.
Scaglione (2006:16) mengatakan:
Much of the recent research seems to indicate that, contrary to popular belief, most
bullies
do
not
suffer
from self-esteem. Feeling
bad
about
themselves
does
not
explain
why
they
bully.
In
fact,
they
are
usually well
liked
by
their
peers
and
by
adults.
They bully
not to
intentionally
harm another but rather to obtain things that
we all want in life: power, popularity, and respect from others. In schools, bullying
is one way (though a
negative one) children achieve
respect and status
from their
peers. Bullies use their victims to feel powerful.
Terjemahan:
Beberapa peneliti banyak yang menyatakan mereka tidak setuju dengan
kepercayaan
umum
bahwa
para
pem-bully tidak bermasalah dengan harga diri.
Merendahkan diri tidak menjelaskan alasan mengapa mereka melakukan pem-
bully-an. Padahal faktanya biasanya mereka sangat disukai oleh teman
sepermainannya dan orang dewasa. Mereka melakukan tindakan bully bukan untuk
menyakiti namun untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan semua orang:
kekuatan, popularitas, dan dihormati oleh orang
lain. di
sekolah
mem-bully adalah
satu-satunya
cara
(cara
yang
negatif)
bagi anak-anak
untuk
mendapatkan
rasa
hormat dan status dari teman sepermainan mereka. Pem-bully memanfaatkan
korban mereka agar terlihat kuat.
Scaglione
(2006:17-19)
mengatakan
ada beberapa
faktor
lain
yang
dapat
menjelaskan
mengapa
beberapa
anak
melakukan
ijime
sedangkan
anak-anak
yang
lain
tidak. Beberapa faktor itu adalah:
|