Home Start Back Next End
  
15
tidak tahu adanya kejadian ini karena mereka takut mereka yang akan menjadi sasaran
dari ijime.
Hal
ini
juga
disebutkan oleh
Morita
dan
Kiyonaga
(2004)
bahwa
ijime
dilakukan oleh sekelompok anak sekolah
yang didukung baik secara
langsung
maupun
tidak langsung oleh siswa lainnya karena bagi mereka hubungan teman sekelas adalah
hanya
sebuah
area
yang
terdapat
dalam kehidupan
sekolah
yang
tidak
secara
langsung
diatur oleh guru. Biasanya yang menjadi korban dari ijime ini adalah mereka yang lemah,
cacat, atau bahkan
mereka
yang
mempunyai kelebihan,
misalnya pandai di kelas dan ini
yang
membuat
ijimekko merasa
iri padanya. Tindakan ijime bisa berbuah tindak kriminal
karena
sebenarnya
tindak ijime hanya sebatas perlakuan yang tidak wajar terhadap
seseorang 
yang 
memiliki 
sikap 
atau 
kebiasaan 
yang 
berbeda 
dari 
kelompoknya
perlakuan  
itu  
namun  
lama   kelamaan  
menjadi   berkelanjutan.   Menurut   Shinbori
(1987:149)
ijimekko
adalah
mereka
sebagai
pelaku
(???/
pelaku)
dan
ijimerarekko
adalah mereka yang menjadi korban (???/ korban).
Ijime  bukannya  tidak  mungkin  bisa  berkurang.  Hal  ini  dikemukakan  oleh  Taki
(2001)
jika
seorang
anak
mampu
untuk
saling bertoleransi
satu
sama
lain
maka
semua
tindak
ijime bisa
dikurangi.
Hanya
saja
tingkat
stres
anak-anak
Jepang
sangat
tinggi
selain
karena
tuntutan
akademik
mereka
juga
memiliki
masalah
dalam berinteraksi
dengan sesamanya terutama teman sebaya, dan tingkat stres dapat mempengaruhi tingkat
atau
frekwensi
terjadinya ijime.
Faktor
penyebab
stres
mempengaruhi
tingkat
stres.
Apabila anak-anak dapat mengembangkan kemampuan berinteraksi mereka dengan
teman
sebayanya,
maka
ijime
dan
juga
masalah
tingkah
laku
atau
masalah
sosial
yang
lain juga bisa dikurangi.
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter