16
Denmark
(2005:184)
mengatakan ijime
paling
sering
terjadi
di
sekolah-sekolah
dan
kelas-kelas dimana para
guru
tidak
memiliki kewibawaan, siswa-siswa
yang kurang rasa
kebersamaan, dan siswa-siswa yang tidak memegang komitmen pada kelompoknya
sendiri.
Dengan
kata
lain,
apabila
para
guru
memiliki
wibawa
tinggi
serta
di
hormati
oleh para siswanya, maka angka siswa yang terlibat dalam masalah ijime ini sedikit.
Nakada (2003) mengatakan tidak semua anggota kelompok ijime melakukan tindak
ijime secara
langsung. Nakada (2003)
membagi kelompok-kelompok
yang terlibat dalam
tindak ijime berdasarkan karakteristiknya:
1. Higaisha (??? / korban)
Berdasarkan karakteristiknya, korban dibagi menjadi 4, yaitu:
a.
Anak
yang
lemah:
biasanya
adalah anak
yang memiliki
sifat
pemalu,
pemurung, pendiam, lemah, tidak dapat melawan, tidak bisa marah, dan
kemauannya lemah.
b. Anak
yang
tidak
menyenangkan:
biasanya
adalah
anak
yang
suka
melawan, memiliki sifat suka menentang, berbicara buruk, sombong, mau
menang sendiri, dan yang memiliki sifat yang aneh.
c.
Anak
yang
inferior:
adalah
anak yang
tidak
mampu
melakukan
sesuatu
dengan benar, pelupa, tidak pandai, kotor, dan miskin.
d.
Anak yang cacat: biasanya yang memiliki cacat fisik dan lemah dalam
olahraga.
Sifat-sifat
diataslah
yang
menyebabkan
anak-anak tersebut tidak dapat bergaul
dengan teman-temannya, karena itu mereka memilih untuk tunduk pada yang
lebih kuat dan selalu mengikuti aturan serta perintah dari pihak yang kuat seperti
|