11
yang jika salah pukul tidak akan
mengelurakan bunyi trok-trok seperti
seharusnya.
H. WAYANG GAMBUH
wayang
Gambuh adalah salah satu jenis wayang
Bali
yang
langka, pada
dasarnya adalah pertunjukkan wayang kulit
yang melakonkan ceritera Malat,
speerti
wayang
panji
ynag
ada
di
Jawa.
Karena lakon
dan
pola
acuan
pertunjukan
adalah
Dramatari
gambuh, maka dalam
banyak hal wayang
Gambuh merupakan
pementasan
Gambuh melalui wayang kulit. Tokoh-
tokoh
yang ditampilakn ditransfer dari tokoh-tokoh Pegambuhan, demikian
pula gamelan pengiring dan bentuk-betuk ucapannya.
Konon,
perangkat
wayang
Gambuh
yang
kini
tersimpan di
Blahbatuh
adalah
pemberian dari
raja
Mengwi
yang
bergelar
I
Gusti
Agung
Sakti
Blambangan,
yang
membawa wayang dari tanah
Jawa (Blambangan) setelah
menaklukan raja
Blambangan sekitar
tahun 1634.
Alamarhum I
Ketut
Rinda
adalah
salah
satu wayang
Gambuh
angkatan
terakhir
yang
sebelum
meninggal sempat
menurunkan kaehliannya kepada
I
Made
Sidja
dari
(Bona) dan I Wayang Nartha (Dari Sukawati).
I. WAYANG ORANG
Wayang
orang
adalah
wayang
yang
dimainkan dengan
menggunakan
orang
sebagai
tokoh
dalam
cerita
wayang
tersebut. Wayang orang
disebut
juga dengan istilah wayang wong (bahasa Jawa).
Sesuai
dengan
sebutannya, wayang
tersebut
tidak
lagi
digelar
dengan
memainkan boneka-boneka wayang (wayang kulit
yang biasanya terbuat dari
bahan
kulit
kerbau
ataupun
yang
lain),
akan
tetapi
menampilkan
manusia-
manusia
sebagai
pengganti boneka
wayang
tersebut.
Mereka
memakai
pakaian sama
seperti
hiasan-hiasan yang
dipakai pada wayang kulit. Supaya
bentuk
muka
atau
bangun
muka
mereka
menyerupai wayang
kulit
(kalau
dilihat
dari
samping),
sering
kali
pemaiin
wayang
orang
ini
diubah
atau
dihias mukanya dengan tambahan gambar atau lukisan.
Pertunjukkan wayang
orang
masih
ada
saat
ini,
salah
satunya
wayang
orang barata
(dikawasan Pasar Senin, Jakarta),
Taman Mini Indonesia Indah,
Taman Sriwedari Solo, dan lain-lain.
J. WAYANG KULIT GAGRAG BANYUMASAN
Wayang
kulit
gagrag
banyumasan merupakan
salah
satu
gaya
pedalangan di
tanah Jawa.
Wayang
ini
lebih dikenal dngan
istilah pakeliran,
dan
berperan
sebagai
bentuk
seni
klanengan
serta
dijadikan
wahana
untuk
mempertahankan nilai
etika,
devosional, dan
hiburan,
yang
kualitasnya
selalu
terjaga
dan
ditangani sungguh-sungguh
oleh
para
pakar
yang
memahami
benar.
Pakeliran ini
mencakup
unsur-unsur
lakon
wayang
(penyajian
alur
cerita
dan
maknanya), sabet
(seluruh
gerak
wayang),
catur
(narasi
dan
cakapan),
dan
karawitan
(gendhing, sulukan
dan
property,
panggung).
Yang
menarik,
pakeliran
gagarag
banyumasan mempunyai
nuansa
kerakyatan
yang
kental,
sebagaimana
karakter
masyarakatnya,
yaitu
jujur
dan
terus
terang
serta
hidup
dan
berkembang
di
daerah
Karesidenan
|