![]() 18
sudah tidak pernah bertemu lagi kaena kesibukan saudaranya yang suka bekerja
lembur setiap hari. Ia mengatakan
bahwa saudaranya pernah belajar melukis
spanduk tersebut dari sekolahnya di daerah Jawa.
Gambar 2.31. Warung Nasi Uduk milik Mas Zainal, Jakarta Utara.
-
Naomi Haswanto,
Head of Visual Communication Design di Institut
Teknologi Bandung
Wawancara dilakukan di ITB dengan menanyakan pertanyaan dan diskusi
secara langsung direkam dengan handphone. Dengan gelar doktornya yang baru
ia dapatkan setelah mengerjakan desertasinya selama 5 tahun dengan judul
"Fenomena Tipografi Vernakular Masyarakat Sektor Informal Perkotaan
Sebagai Ekspresi Budaya Masyarakat Urban Kota Bandung"
membuat penulis
menjadikannya sebagai salah satu narasumber utama dalam penelitian tugas
akhir ini.
Menurut Naomi Haswanto, tipografi vernakular di Indonesia berawal karena
alasan ekonomi, banyak orang yang tidak memiliki pendidikan tinggi yang
akhirnya mengambil usaha yang disebut sektor informal, yaitu pekerjaan yang
tidak terkena pajak yaitu pedagang kaki lima (PKL). Karena keterbatasan
ekonomi ini, para PKL ini membuat gerobak untuk berjualan, dan seiring
berjalannya waktu mereka merasa perlu untuk mengkomunikasikan apa yang
mereka jual kepada orang sekeliling
dan mereka mulai menulisi gerobak
mereka.
Ada berbagai tipe pedagang yang memiliki cara menulis yang berbeda yaitu,
ada yang sekedar menulis karena pendidikan yang rendah, ada yang merasa
perlu menghiasnya karena memiliki rasa seni yang muncul dari seni tradisional
misalnya kalau di Bandung, mereka mengambil kesenian Sunda seperti Wayang
Golek, dan ada yang ingin gerobaknya dihias dengan bagus mereka meminta
bantuan pelukis profesional atau pelukis jalanan pada saat itu.
Dengan
keterbatasan pengetahuan dan ekonomi, mereka mulai berkreasi dengan meniru
huruf-huruf yang sedang populer untuk menulis becak atau gerobaknya.
|