2.2.5 Dayak Iban
Abad demi abad selalu disertai oleh tanda dan simbol. Baik dalam bentuk
visual maupun non visual. Manusia merupakan pelaku utama penanda itu, ia adalah
mahkluk yang penuh daya cipta, ide, estetika, kreativitas, serta rasa
kemanusiaannya. Dalam kehidupan komunal, manusia menyepakati berbagai aturan
dan norma, bahasa, dan akhirnya menyepakati tanda, dan lambang sebagai identitas
bersama. Eksistensi identitas itulah yang menuntun manusia mengurangi,
menambah, mengatur dan mengubah bagian tubuh alamiahnya.
Tato adalah contoh penanda itu, karya seni hasil peradaban itu sendiri. Sekaligus
merupakan sebuah media dalam masyarakat dan kelompok tertentu untuk saling
mengenal dan berkomunikasi dan menunjukkan eksistensinya.
Tato, dan tradisi yang menyertainya adalah bagian kehidupan manusia, ia ada
dalam tradisi seluruh benua dibelahan bumi ini. Afrika, Amerika, Eropa, Asia,
Oceania, di benua Australia dan sekitarnya. Awalnya ia adalah konsumsi lokal
kelompok masyarakat semata, namun kini dalam era global ia dapat menjadi
konsumsi siapa saja yang menjadi anak jaman. Kata Tato, adalah peng-Indonesiaan
dari tatto (English). Yang dapat diartikan sebagai goresan, gambar, atau lambang
yang membentuk sebuah desain pada kulit tubuh. Konon kata Tato, berasal dari
bahasa Tahiti, yakni tattau. Dan akhirnya memiliki istilah yang umumnya hampir
sama diberbagai belahan dunia; tatoage, tatouage, tatowier, tattuagio, tatuar,
tatuaje, tatoos, tattuaringer,
tatuagens, tattoveringer, tattoos dan tatu. (Tato, Hatib
abdul kadir Olong, 83) Dalam bahasa Dayak ada yang menyebutnya Tutang, Pantang,
Tedak.
Pada tradisi orang Dayak, Tato adalah ritual tradisional yang terhubung
dengan peribadatan, kesenian dan juga pengayauan. Ia melekat ditubuh secara
permanen sehingga ia menjadi ikatan pertalian, penanda yang tidak terpisahkan
hingga kematian, selain itu juga berfungsi menunjukkan status sosial pemakai
maupun kelompok tertentu. Gambar dan motif tertentu pada tato yang dikenakan
orang Dayak ada yang dipercaya penggunanya merupakan cara untuk menangkal
pengaruh jahat dan membawa keselamatan.
Dalam bukunya Dragon and Hornbill, Bernard Sellato mengungkapkan bahwa
selain Dayak Tunjung dan Dayak Daratan, hampir semua kelompok suku Dayak di
Kalimantan mengenal Tato sebagai penanda dan identitas kelompoknya. Terutama
yang mengemuka di Kalimantan Barat adalah kaum lelaki Iban, Kayan dan Taman.
Pada orang Dayak Kayan dan Kenyah, wanita mengenakan lebih banyak tato pada
tangan dan kakinya untuk mempercantik diri.
Menurut Sellato pula, motif yang dikenakan kaum pria Dayak pada umumnya
merupakan lambang kejantanan, keberhasilan dalam perang, dan identifikasi dalam
pertempuran. Motif tato yang sering di gunakan merupakan cara untuk menangkal
pengaruh jahat, penyembuhan penyakit, dan mempunyai makna religius, serta
merupakan lambang alam semesta yang saling melengkapi. Seorang lelaki dewasa
Dayak Iban yang telah berpengalaman dalam Mengayau, ataupun perantau dan
berbagai kelebihan individu segera mengenakan lambang-lambang yang
menunjukkan keperkasaannya. Ini adalah kebanggaan, prestise dan sebuah fase yang
didambakan kaum lelaki saat itu.
-
Pengayauan
Mengayau memang identik dengan Dayak. Namun adat mengayau tidak
terdapat dalam semua subsuku Dayak.
|