Start Back Next End
  
15
2.2
Pengembangan Sorgum Indonesia
Menurut Amelinda Angelina, Theresia Rosiana, Nur Istianah, Setiyo Gunawan
dan Anil Kumar Anal (2013 : 279) Indonesia kaya akan sumber bahan pangan namun
banyak sumberdaya lokal yang belum termanfaatkan
hingga saat ini. Hal ini disebabkan
karena ketahanan
pangan yang terlalu bergantung pada satu komoditas, yaitu
gandum.
Namun tanpa melihat sumber lain yang berasal dari non gandum seperti sorgum ternyata
dapat menjadi alternatif pengganti gandum karena memiliki kandungan karbohidrat yang
sama dengan gandum sebagai bahan bakutepung terigu. Sorgum mengandung zat gizi
seperti
karbohidrat 83%, lemak 3,50% dan protein 10% (basiskering). Namun,
penggunaan sorgum dalam industri makanan di Indonesia sangat terbatas.Dalam
industry makanan sorgum dapat dibuat menjadi tepung yang dapat
digunakan untuk
pendamping tepung beras dan tepungterigu.
Menurut Dr. Ir. Supriyanto (2010 : 49), di dunia, Sorgum sebagai pangan
menduduki urutan ke lima setelah beras, gandum, jagung, dan barley , sedang di USA
menduduki urutan ke tiga setelah gandum dan barley. Dengan demikian pada dasarnya
sorgum telah menjadi komoditas penting untuk dikembangkan sebagai pangan, terutama
pada lahan-lahan kering ketika sudah tidak dapat ditanami padi atau jagung.Pada saat
sekarang Indonesia mengimpor terigu sebanyak 5 juta ton/tahun yang kemudian dirubah
menjadi berbagai bentuk panganan seperti mie, kue dan lain-lain. Pengalaman
diberbagai negara di USA, India, Nigeria, Ethiopia menunjukkan bahwa biji sorgum
dapat dirubah menjadi tepung yang dapat digunakan untuk menggantikan terigu dan
mampu dirubah menjadi aneka panganan.  
2.2.1
Sejarah Sorgum
Menurut Rudi Hermawan (2013
: 14), komoditas sorgum berasal dari benua
Afrika. Komoditas ini mulai mulai mendunia sejak akhir tahun 1980–an. Belanda
membawa sorgum ke Indonesia tahun 1925. Dijawa sorgum dikenal dengan nama
Cantel, otek dan jagung cantrik. Meskipun sudah masuk ke Indonesia sejak jaman
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter