|
13
Gumanti
(2000),
Sulistyanto
(2003),
dan
Midiastuty
&
Machfoeds
(2003)
juga
menyetujui
bahwa discretionary
accrual
memberikan
manajer
fleksibilitas
untuk menentukan besarnya transaksi akrual, seperti penentuan pencadangan
piutang tak tertagih, biaya garansi, nilai persediaan, dan penentuan saat serta
jumlah
extraordinary
items.
Akibatnya,
discretionary
accruals ini
seringkali
digunakan
sebagai
proksi
dilakukannya manajemen
laba.
Sementara
itu,
nondiscretionary
accrual
meliputi
pemilihan metode
akuntansi
akrual
oleh
manajer
yang
diharapkan
akan
digunakan
secara
konsisten
dalam menyajikan
laporan
keuangan.
Contohnya
adalah
pemilihan metode
depresiasi
dan
kebijakan
akuntansi untuk pengakuan pendapatan.
II.3.2
Asimetri Informasi dan Akuntansi Akrual
Rahmawati dan Baridwan dalam Jurnal Akuntansi dan Bisnis (2007, p173)
menyatakan bahwa
umumnya di dalam pasar
terdapat suatu kelompok orang tertentu
(misalnya penjual) yang mengetahui sesuatu hal tentang aset yang hendak
diperjualbelikan, yang tidak diketahui oleh kelompok orang yang lainnya (misalnya
pembeli). Jika situasi ini terjadi, maka pasar dikatakan tidak efisien dan terjadi
asimetri informasi yang berarti bahwa distribusi informasi tidak sama kepada semua
peserta
dalam
pasar.
Hal
yang
sama
juga
berlaku
dalam manajemen
laba,
dimana
manajer
mengetahui
informasi
dalam perusahaan
yang
tidak
diketahui
para
stakeholders. Adanya
asimetri
informasi
ini
dan
fleksibilitas
yang
diberikan
oleh
akuntansi akrual kepada manajer menyebabkan dapat dilakukannya praktik
manajemen laba.
|