|
19
berdagang
ke
luar
negeri.
Kecenderungan
adanya
gekokujo (orang
bawahan
yang
mengalahkan atasannya dan
mengambil kekuasaannya) yang sering
terjadi pada
masa
itu
mengubah
cara
berpikir
rakyat
tentang
ketertiban
dalam
masyarakat.
Pemberontakan
juga
sering
terjadi
di
mana-mana
sehingga
kehidupan rakyat
menjadi
sangat
susah.
Agama
Budha
yang
sudah
lama
ada
di
Jepang
pada
masa
itu
tidak
berdaya, bahkan
bhiksu-bhiksunya bersekutu
dengan
politik
pemerintahan
karena
mereka
hanya
memikirkan diri
sendiri.
Akibatnya,
masalah
kesulitan
yang
dialami
rakyat
tidak
dapat
teratasi
secara
material
maupun
spiritual.
Pada
situasi
seperti
itulah
menurut
Ebisawa
(1966:
2-12)
dan
Hori
(1990:176), bangsa
Portugis
baru
dapat
membuka
jalur
perdagangan dan kegiatan misi agama Kristen Katolik ke Jepang.
Namun,
para
misionaris
yang
menyebarkan
agama
Katolik
mengalami
kesulitan
karena
sebelumnya orang
Jepang
belum
mempunyai pandangan
monoteisme. Para
misionaris
tidak
mengakui
agama-agama yang
ada
di
Jepang.
Xaverius,
misalnya,
menganggap agama
Shinto
sebagai
agama
primitif.
Namun
ia
berusaha
menengahi
konsep
agama
Budha
dengan
maksud
supaya
lebih
mudah
mengajarkan konsep
agama
Kristen
kepada
orang
Jepang.
Salah
satu
strategi
penyebaran
Kristen
yang
dilakukan
para
misionaris
menurut
Ebisawa
(1974:
33-35)
adalah
dengan
menterjemahkan
buku
Roma
Katekismo
(Caterchismus
Romanus)
ke
bahasa
Jepang
pada
tahun
1563
untuk
mengimbangi kehidupan keagamaan yang khas di Jepang.
Berapa
banyak
pengikut agama
Kristen
Katolik
di
Jepang pada
masa penyebaran
itu
dapat
diketahui
dari
surat
dan
laporan
para
misionaris. Pada
masa
itu,
jumlah
pengikutnya cenderung
naik
walaupun
angka
yang
pasti
belum
ada.
Pada
tahun
1570,
penganut Katolik menunjukkan
angka 20.000 30.000 jiwa dan pada tahun 1600
menjadi 300.000
jiwa. Kenaikan jumlah
yang
mencolok
ini
terjadi sejak tahun 1570-an
|