Home Start Back Next End
  
20
berdasarkan pencatatan Ide Shimizu (1988: 34-35).
Dari catatan
Laporan
Tahunan Ordo
Jesuit
Jepang
tahun
1581 
(Shimizu:36),
dapat
diketahui
bahwa
jumlah
penganut
di
daerah
Nagasaki
lebih
banyak
jika
dibandingkan
dengan
jumlah
penganut
di
wilayah
lain
seperti
di
bagian
timur
Kyushu
maupun
Honshu.
Di
daerah
Shimoarima,
sekitar
kota
Nagasaki, penganut
agama
Kristen
Katolik
pada
masa
itu
mencapai 76%.
Ini
dikarenakan
di
daerah
tersebut
ada
beberapa
daimyo Kirishitan
yang
terkemuka
seperti
Omura
Sumitada, Arima
Yoshinao
(dibaptis
tahun
1576),
Arima
Harunobu
(dibaptis
tahun
1580),
Amakusa
Naotane
(dibaptis
tahun
1570),
Amakusa
Tanemoto (dibaptis
tahun  1577)  dan  Goto  Jyunko  (dibaptis  tahun  1568).  Karena  itulah  gereja  Kristen
Katolik berkembang dengan mudah (Shimizu: 35-39).
Sebenarnya,
pada
masa
awal
penyebarannya,
tidak
ada
data
sensus
yang
resmi
tentang
banyaknya penganut
Kirishitan
di
Jepang.
Jika
ditilik
dari
jumlah
penduduk
Jepang
pada
masa
itu
yang
diperkirakan
ada
18
juta
jiwa,
penganut
Kirishitan
pada
tahun 1581 amat sedikit, hanya 0,83%. Pada tahun 1590
tidak banyak pertambahannya,
hanya
mencapai
1,3%.
Angka
ini
hampir
sama
dengan
angka
perbandingan menurut
sensus  1979  dari  Asahi  Nenkan  (buku  Sensus 
Tahunan  dari  Harian  Asahi), 
yaitu
penganut Kristen
(Protestan maupun Katolik)
mencapai 1.100.000
jiwa.
Artinya, 0,97%
dari 
jumlah 
seluruh 
penduduk  Jepang 
yang 
totalnya 
11.490.000 
jiwa. 
Mengingat
kesulitan 
yang 
terjadi 
pada 
masa 
awal 
misi 
Kirishitan 
di 
abad 
16, 
angka 
ini
menunjukkan perkembangan yang stabil (Shimizu: 37-38).
Sejak
jaman
Meiji
hingga
sekarang, agama
Kristen
masih
melakukan misinya
secara bebas, kecuali
pada
saat
Perang
Dunia
I
dan
II.
Namun
jika
dibandingkan pada
jaman Kirishitan,
jumlah penganutnya cenderung statis atau tidak bertambah banyak. Ini
dikarenakan dalam pandangan orang Jepang, agama Kristen – seperti halnya pula agama
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter