|
13
2.4 Pemikiran Tentang Agama
Kristen Dalam
Sastra Jepang
Mulanya,
pada
masa
pemerintahan Tokugawa
di
Jepang
terdapat
suatu
periode
masa di
mana agama Kristen (atau disebut Kirishitan
dalam pengucapan bahasa Jepang)
dilarang
beredar.
Pada
masa
tersebut
(abad
17-19),
banyak
terdapat
fumie;
yaitu
papan
dengan
gambar Yesus Kristus di tengahnya yang dibuat untuk diinjak oleh rakyat Jepang,
sebagai
bukti
diri
bahwa
seseorang
bukan
penganut
Kirishitan.
Kebanyakan pada
masa
ini,
penganut
Kirishitan
terpaksa
membelot
dari
agama
Kristen.
Ada
juga
kelompok
yang menginjak
fumie hanya untuk sekedar kamuflase,
namun secara diam-diam
mereka
tetap
mempertahankan
agama
itu
sampai
larangannya
dicabut
pada
saat
restorasi
Meiji
di
akhir
abad
ke-19.
Kelompok
seperti
ini
disebut
Kakure
Kirishitan
atau
penganut
Kristen yang tersembunyi dalam sejarah Jepang.
Fransiskus
de
Xaverius (1506-1552)
dari
Societas
Jesu
(Ordo
Jesuit)
memperkenalkan agama
Kristen
Katolik
ke
Jepang.
Pada
tanggal
15
Agustus
1549,
Xaverius
dan
rombongannya tiba
di
Kagoshima
(ujung
selatan
pulau
Kyushu).
Rombongan
mereka dipandu oleh
Anjiro. Tidak ada
yang mengetahui
nama Anjiro
yang
sebenarnya,
tetapi
dalam
surat
Xaverius
ditulis
nama
baptis
orang
ini;
yaitu
Paulo
de
Santa Fe.
Anjiro
adalah seorang samurai bawahan
asal
Kagoshima yang
pernah berbuat
kejahatan
dan
melarikan diri
dengan
kapal
Portugis
ke
Malaka.
Kemuian ia
bertemu
dengan
Xaverius pada
tahun 1547.
Dari
Malaka,
Xaverius berangkat ke
Jepang bersama
Cosme de Torres, Juan Fernandez dan Anjiro yang dibaptis di Goa.
Di
Kagoshima,
Xaverius
tinggal
selama
satu
tahun.
Ia
mempelajari
budaya
dan
tata
krama
orang
Jepang
dan
mendapat
kesimpulan bahwa
orang
Jepang
adalah
orang
terdidik dan sangat menjaga kehormatan. Ia pun
mengetahui bahwa orang Jepang
memuja
alam
dan
gejala-gejalanya
seperti
cuaca,
matahari
dan
bulan.
Tetapi
ia
|