Home Start Back Next End
  
14
mendapatkan fakta
bahwa bhiksu agama
Budha di
sana
terjerumus ke
dalam kegelapan
duniawi
secara
moralitas.
Atas
dasar
itulah,
Xaverius
termotivasi
ingin
membebaskan
orang Jepang dari kuasa kegelapan dalam pandangan orang Kristen. Ia
lalu berangkat ke
Kyoto
melalui
Hirato
dan
Yamaguchi
pada
musim
panas
tahun
1550
untuk
menemui
Kaisar
Kyoto.
Saat
itu
Kyoto
menjadi
ibukota
Jepang.
Tapi
sesampainya di
sana,
Xaverius tidak
dapat
menemui
Kaisar.
Lebih
tepatnya
lagi,
karena
saat
itu
kota
Kyoto
sudah
menjadi puing-puing akibat perang.
Tidak
ada
kemungkinan bagi
para
misionaris
Kristen  Katolik 
untuk 
menjalankan  misi 
mereka  di 
sana.  Karena 
itu, 
rombongan
Xaverius
kembali
ke
Yamaguchi,
ke
wilayah
daimyo (penguasa
wilayah)
Ouchi
Yoshitaka.
Kota
itu
maju
dalam
hal
perdagangan dan
Xaverius
mendapat
ijin
dari
Daimyo Ouchi untuk menjalankan misi agama Kristen di sana.
Berdasarkan
nasehat
Anjiro,
Xaverius
menterjemahkan istilah
Deus
(Tuhan)
sebagai
Dainichi 
(Dewa
agama
Budha
yang
panteis
atau
Mahavairocana) 
sehingga
agama
Kristen
diminati
orang
Jepang
karena
dianggap salah
satu
aliran
dari
agama
Budha.
Semakin lama
Xaverius menetap
di
Jepang,
ia
semakin
mengerti kondisi
kebudayaan Jepang
yang
banyak
dipengaruhi budaya
Cina.
Karena
itu
ia
berpikir,
jika
Cina di-Kristenisasi,
maka Jepang pun
lama-lama akan
menerima ajaran agama Kristen
sepenuhnya.
Maka,
pada
musim
gugur
tahun
1551,
Xaverius
meninggalkan Jepang
menuju ke Cina lewat India.
Namun
karena
sakit
pada
musim
semi
di
sekitar
Makau,
Xaverius akhirnya
meninggal dunia sebelum
ia
sempat
menginjakkan kakinya di
Cina.
Dari
misi
Xaverius
sewaktu berada di Jepang selama dua setengah tahun,
ia
telah berhasil membuat sekitar
1.000
orang
Jepang
dibaptis.
Namun,
jika
dibandingkan
dengan
jumlah
orang
yang
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter