|
20
GE
dan
Allied
Signal
/
HoneyWell
yang
telah
meraup
berbagai
keuntungan
dan
menjadi tiga perusahaan yang paling sukses di dunia.
Kisah Six Sigma berawal pada tahun 1980 di Motorola. Motorola
merupakan
salah satu dari banyak korporat AS dan Eropa yang kehilangan pasarnya dikarenakan
perbedaan kualitas dengan perusahaan Jepang. Konsep mutu berbasis TQC/QCC
yang diperkenalkan di Jepang telah membuat banyak perusahaan barat kehilangan
daya saingnya. Seperti kebanyakan perusahaan di AS saat itu, Motorola tidak
memiliki
program "Kualitas".
Pada
tahun
1983,
reliability
engineer
Bill
Smith
menyimpulkan bahwa pemeriksaan dan pengujian tidak mendeteksi seluruh cacat
produk, pelanggan menemukan cacat, dan cacat menyebabkan produk gagal. Karena
taraf kegagalan proses jauh lebih tinggi dibandingkan yang ditunjukkan pada uji akhir
produk,
Smith
memutuskan
bahwa
cara
yang terbaik
untuk
mengatasi
masalah
cacat
adalah terutama dengan memperbaiki proses untuk menurunkan/menghilangkan
kemungkinan
cacat
tersebut.
Ia
lalu
menetapkan
standar
Six
Sigma
(hampir
sempurna)
yang
mencapai
99,9997%
dan
menciptakan istilah itu untuk metodologi
tersebut.
Mikel
Harry,
insinyur
mutu dan
reliability
di
Motorola
yang
mendirikan
Motorola Six Sigma Research Institute, memperbaiki metodologi itu lebih jauh bukan
untuk
menghilangkan
pemborosan
proses. Bob Galvin, CEO Motorola pada saat itu,
memperkenalkan Six Sigma dan Motorola
memperoleh
hasil akhir
yang besar sebagai
buah
dari
upaya
Six
Sigma,
dengan
mencatat
lebih
dari
$16
milyar
penghematan
dalam 15
tahun.
Hanya
kurang
dari
dua
tahun
setelah
meluncurkan
Six
Sigma,
pada
tahun 1988 Bob Galvin selaku CEO Motorola
menerima penghargaan Malcolm
|