|
8
itulah yang kemudian menjalin wilayah, membentuk gunung dan lembah, laut serta
berbagai aneka satwa. Tetapi hari-hari pertama Batara Guru di bumi tidaklah
menyenangkan,
ia
menderita
seorang
diri, kelaparan,
kedingin dan panas disinari
matahari. Maka suatu
hari saat
ia berjalan-jalan di
sebuah telaga
yang besar,
ia bertemu
dengan
penjaga
telaga
tersebut
yang
kemudian membawanya kepada Sinauq Toja sang
penguasa telaga. Setelah berbincang dengan Sinauq Toja, Batara Guru diberitahu bahwa
bila ia telah tenang berada dipermukaan, maka ia dapat bertemu dengan puteri Sinauq
Toja,
Wé
Nyiliq
Timoq
yang
kemudian
akan menjadi
istri
Batara
Guru.
Kemudian
kembalilah
Batara Guru kepermukaan.
Haripun berlalu, karena
merasa sangat
menderita
maka Batara Guru
mengeluhkan penderitaannya kepada langit. Karena iba, Patotoqé dan
istrinya
menurunkan
pusaka
Batara
Guru kedunia,
semua
istana,
rumah
penduduk,
saudara-saudara
serta
inang
pengasuhnya. Hidup
Batara
Guru
pun
menjadi
bahagia.
Hingga
pada
suatu
hari
Batara
Guru
mendapat
mimpi
bahwa
ia
harus
pergi
ke
tepi
telaga.
Penasaran
dengan
mimpinya
tersebut, Batara Guru berangkat beriringan dengan
pasukannya
ke
tepi
telaga.
Disana
ia
bertemu
dengan
Wé
Nyiliq
Timoq
yang
muncul
dari
dasar
telaga.
Awalnya
Wé
Nyiliq
Timoq
tidak
mau
menikah
dengan Batara
Guru,
tapi dengan bantuan para bissu merekapun akhirnya menikah. Waktupun berlalu, semua
selir
Batara
Guru
telah melahirkan
anaknya.
Akan
tetapi
Wé
Nyiliq
Timoq
belum juga
hamil, maka diadakanlah upacara mohon keturunan hingga pada akhirnya Wé Nyiliq
Timoq
hamil.
Saat
kelahiran
Batara
Lattuq, putera Batara Guru, pun tidak berjalan
dengan mudah, berbagai kurban diberikan agar Batara Lattuq dapat lahir kedunia,
setelah melewati perjuangan yang berat, akhirnya lahirlah Batara Lattuq ke dunia.
|