|
4
menyerahkan mahkota sanggahana itu. Dan kalau Maharaja Diraja tidak mau
memberikannya maka kapal itu akan ditenggelamkan.
Karena takut Maharaja Diraja menyerahkan mahkota itu kepada kedua kakaknya
tersebut. Tetapi ketika menerima mahkota itu, terjatuh mahkota itu ke dalam laut itu.
Seekor naga besar datang lalu membelit mahkota itu dan bertindak menjadi pengawal
mahkota tersebut. Melihat peristiwa tersebut ketiga anak raja tersebut jatuh pingsan.
Maka seorang pengiring Sultan Maharaja Diraja bernama Cateri Bilang
Pandai membangunkan Sultan tersebut. Dia memberitahukan raja itu bahwa raja tidak
usah merasa kecewa dengan kehilangan mahkota itu sebab dia akan menciptakan
duplikat dari mahkota yang hilang. Diambilnya sebongkah emas yang bernama emas
sejati jati, lalu berkerjalah dia membuat tiruan mahkota itu. Dengan sebuah teropong,
cermin polongan kaca dilihatnya mahkota yang sudah berada didalam laut itu. Adapun
mahkota itu terselip dibatu karang dan cahayanya memancar-mancar juga. Dengan
keahlian Cateri Bilang Pandai diciptakannyalah sebuah mahkota yang persis sama
dengan mahkota yang jatuh kelaut itu sehingga tidak ada perbedaan bentuk dan mutu
dari mahkota sanggahana yang hilang itu. Tukang yang membuat mahkota tersebut
dibunuh setelah mahkota tersebut jadi, sehingga tidak dapat ditiru lagi. Baginda sangat
heran melihatnya tetapi sangat bersuka cita, walaupun mahkota itu hanya tiruan dari
yang asli. Ketiga putera tersebut berpisah disana. Maharaja Depang meneruskan
perjalanan ke Cina dan Maharaja Alif kembali ke negeri Rum.
Maharaja Diraja terus berlayar menuju ke tenggara menuju sebuah pulau yang
bernama Jawa Alkibri. Kemudian nama ini berubah menjadi Sumatera atau pulau
Andalas. Pengiring Baginda terdapat seekor anjing muklim, seekor kucing Siam, seekor
kambing hutan, dan seekor harimau. Binatang- Binatang ini sebenarnya bukanlah
binatang, tetapi merupakan manusia juga yang mempunyai sifat sesuai dengan jenis-
jenis binatang tersebut.
Beberapa lama berlayar terlihatlah sebuah puncak gunung yaitu puncak gunung
Merapi. Ketika itu daratan belum luas, sebagian besar masih diliputi dengan lautan.
Maka mereka menuju kesana dan mendarat didekat puncak gunung itu. Tetapi ketika
mendarat kapal itu terbentur dengan daratan sehingga terdapat kerusakan. Raja
memerintah supaya memperbaiki kapal itu dengan sayembara sebagai berikut, Barang
siapa yang sanggup memperbaikinya dengan utuh kembali sebagai sediakala, mereka
akan dikawinkan dengan anaknya nanti. Kebetulan Pengiring dengan nama- nama
binatang tersebut yang sanggup memperbaiki kapal yang rusak itu.
Bagindapun memenuhi janji dengan penggiring tersebut. Dalam pada saat itu laut
sudah mulai surut. Dibawah kaki gunung merapi sudah terbentang sebuah daratan yang
amat luas. Itulah sebagai simbolik bahwa kesanalah puteri- puteri raja yang sudah
dikawinkan itu bertempat tinggal dan berkembang biak disana. Yang turun ke luhak
Tanah Datar adalah putera dari pernikahan pertama dengan puteri Raja tersebut. Yang
pergi ke luhak Agam bersemboyan anak harimau, yang ke Lima Puluh Kota yang
besemboyan anak Kambing, dan yang ke Candung Lasi adalah anak kucing
|