Home Start Back Next End
  
5
Daulat yang pertama- tama adalah daulat kepada Lakandibida namanya. Itulah
kemudian hari yang ditempati oleh ninik mamak yang bernama, Ketemanggungan dan
Perpatih nan Sabatang. Mereka bersumpah sakti, berjanji erat akan berkerja sama dalam
pembangunan negeri- negeri. Seorang yang bernama Ninik Ali, yang tahu hubungan
dengan jin- jin dan orang halus, ikut membantu pembangunan. Ia sudah besumpah sakti:
dimana beragih hutan tinggi, rendah kayu rembayan, lurus larik tembayan semak
dan gurun, disanalah Yang Dipertuan bertempat tinggal
Pada saat itu tahun demi tahun, habis musim berganti musim, manusia makin
berkembang juga didaerah yang baru didiami itu, yang kemudiannya akan bernama
“Alam Minangkabau”
2.2.2 Alam Minangkabau
Pada masa Datuk Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang belum
lahir negeri- negeri, masih dikuasai oleh seorang datuk yang bergelar Dt. Marajo Basa di
Padangpanjang dan Dt. Bandaro Kayo di Priangan Pandang Panjang. Kedua datuk itulah
yang memakai gelar gadang kebesaran sebelum lahir kedua negarawan yang amat
terkenal itu. Dan Periangan PadangPanjang ialah kampung yang pertama- tama dalam
Alam Minangkabau ini sebelum kampung- kampung lainnya bermunculan.
Kedua datuk ini menyusun sebuah undang- undang asli yang bernama, Undang-
undang “Si Mumbang Jatuh”, “Si Gamak- gamak”, dan “Si Lamo- lamo. Ketiga
undang- undang ini disusun tangkainya satu demi satu, dipakukan ke tiang panjang,
ditegaskan ke masyarakat sekitar.
Mungkin berdasarkan undang- undang yang sudah ada juga kemudiannya Datuk
Ketemanggungan dan Datuk Perpatih nan Sabatang menyusun undang- undang adatnya
yang kemudian jadi terkenal dengan dua prinsip berbeda tetapi dapat bejalan dengan
baik tanpa ada bentrokan.
Dasar peraturan Datuk Ketemenggungan – Berpucuk bulat titik dari atas dengan
tata caranya bertangga turun atau lebih mirip dengan feodal
dan Datuk Perpatih nan Sabatang – Berurat tunggang membersut dari bumi dengan tata
caranya berjenjang naik atau lebih mirip dengan demokrasi
Dengan rakyat yang semakin banyak, datuk- datuk, Datuk Ketemenggungan,
Datuk Perpatih nan Sabatang, dan Datuk Suri Dirajo bermufakat untuk membagi
luhak” untuk ditinggali. Pada saat itu Cateri Bilang Pandai sudah meninjau- meninjau
daerah yang akan dijadikan untuk tempat tinggal yang baru. Watak dan sifat mereka
bertiga saling berbeda. Yang seorang berkalang kelapa, yang seorang berkalang gunting,
dan seorang lagi berkalang teras kayu manis.
Maka mulailah rombongan demi rombongan meninggalkan daerah asalnya akan
mencari tempat kediaman yang baru. Ada lima puluh orang dalam satu rombongan, ada
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter