|
37
pembelian.
Selanjutnya konsumen
akan mengevaluasi
hasil
dari
keputusannya.
Proses
pengambilan
keputusan
yang
luas
terjadi
untuk
kepentingan
khusus
bagi
konsumen
atau
untuk pengambilan
keputusan
yang
membutuhkan
tingkat
keterlibatan
tinggi,
misalnya
pembeli produk
yang
mahal mengandung
nilai
prestise,
dan
di
pergunakan
untuk
waktu
yang
lama,
bisa
pula
untuk
pembelian
produk yang di lakukan pertama kali.
Proses pengambilan keputusan terbatas terjadi apabila konsumen
mengenal
masalahnya,
kemudian
mengevaluasi
beberapa alternatif
produk atau
merek
berdasarkan
pengetahuan
yang
di
miliki
tanpa
berusaha
(atau hanya
melakukan sedikit
usaha)mencari
informasi
baru
tentang
produk
atau
merek
tersebut. Ini biasanya berlaku untuk pembelian produk-produk yang kurang
penting atau pembelian produk yang bersifat rutin.
Dimungkinkan pula bahwa
proses pengambilan
keputusan ini terjadi pada kebutuhan
yang sifatnya emosional
atau
pada
environmental
needs
(Hawkins,dalam
Tjiptono,
2008,
p21),
misalnya
seseorang memutuskan untuk membeli suatu merek atau produk baru dikarenakan
bosan dengan merek yang sudah ada,
atau karena
ingin mencoba/merasakan
sesuatu
yang
baru.
Keputusan
yang demikian
hanya
mengevaluasi
aspek
sifat/corak baru (novelty or newness) dari alternatif-alternatif yang tersedia.
Proses pengambilan
keputusan
yang
bersifat
kebiasaan
merupakan proses
yang paling sederhana,
yaitu konsumen mengenal masalahnya
kemudian langsung
mengambil keputusan untuk membeli
merek favorit/kegemarannya (tanpa
evaluasi
alternatif).
Evaluasi
hanya
terjadi bila merek
yang di
pilih tersebut ternyata
tidak
sebagus/sesuai dengan yang di harapkan.
Sebuah
proses
pengambilan
keputusan
pembelian
tidak
hanya
berakhir
dengan terjadinya transaksi pembelian, akan tetapi diikuti pula oleh tahap perilaku
|