Home Start Back Next End
  
49
Stanley 
(2007) 
misalnya 
menyatakan 
kepercayaan 
(trust
berfokus 
pada 
kesesuaian
(conformity) dan harapan (expectation).
Semua
definisi
mengenai kepercayaan
menyarankan
bahwa
salah
satu
pihak
yang
berhubungan perlu adanya kerelaan (Willingness), rasa yakin (©onfident), dan mengandalkan
(relying) pihak
lain
untuk
memenuhi
kewajiban
dalam
sebuah
hubungan
business-to-
business (Djati
dan Ferrinadewi,
2004,
p117; Morgan dan Hunt, 1994, p23; Nicholson et al.,
2001;
Sirdeshmukh
et.al,
2002,
p17;
Sett
dan
Mittal,
2004,
p27)
dan
unsur
penting
yang
tidak lupa adalah integritas dari
kedua belah pihak (Moorman et.al,
1993).
Uniknya menurut
Barney  dan  Hansen  (1994,  p176)  kepercayaan  justru  terjadi  didalam  lingkungan  yang
beresiko antara
pihak
yang mempercayai dan pihak
yang
dipercayai.
Hal ini
karena interaksi
banyak
ditandai
dengan
ketidakpastian, sehingga
kepercayaan dianggap sebagai sesuatu
hal
yang diinginkan oleh semua pihak yang terlibat.
2.1.5.2 Terbentuknya Trust
Bagaimana Trust
terbentuk?
Menurut
Morgan
dan
Hunt
(1994,
p3)
kepercayaan
terhadap  perusahaan  (T®ust
in
Company) mun©ul jika suatu pihak memiliki keyakinan
terhadap integritas dan reliabilitas pihak lain yang menjadi mitra pertukarannya. Lebih lanjut
lagi
Morgan dan
Hunt
(1994,
p23)
menjelaskan
kepercayaan
timbul
karena
pihak
pertama
memiliki  rasa  percaya  diri,  keyakinan  (confiden©e), dan  memiliki  integritas  (integrity)
terhadap  keandalan  (reliability).
Berdasarkan  ketiga  point  tersebut,  Morgan  dan 
Hunt
menyebutkan ada
beberapa
faktor
pendukung yang
harus
dimiliki
oleh
mitra
pertukaran,
seperti:
konsisten
(consistent),
kompeten
(competent), jujur
(honest),
adil
(fair),
bertanggung jawab (®esponsibility), Membantu (helpfull), dan baik (benevolent).
Moorman 
et.al 
(1993, 
p82) 
kepercayaaan 
terbentuk 
karena 
adanya 
keyakinan
(confidence)
dan kerelaan (willingness)
dari salah satu pihak dalam hal ini adalah konsumen
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter