|
17
Melengkapi pendapat tersebut, dalam buku Bunpoo no Kiso Chisiki to Sono
Oshiekata disebutkan bahwa joshi
adalah kata yang tidak dapat berdiri sendiri,
biasanya melekat pada jiritsugo
yang lain, menambahkan arti, serta menunjukkan
hubungan jiritsugo tersebut dengan jiritsugo yang lain (1992:68). Selain itu, Higashi
Nakagawa
(1996:1)
menambahkan bahwa joshi
mempunyai fungsi untuk
menunjukkan hubungan antara nomina, adjektiva, kata keterangan, serta kata lain
yang berhubungan dengan jiritsugo
yang bersambungan dengan kata sebelumnya
dalam kalimat.
2.5.1.
Shuujoshi dalam Kalimat Bahasa Jepang
Sebagaimana telah disinggung di atas, shuujoshi
adalah partikel yang
mengakhiri suatu kalimat. Dalam kamus Jepang shuujoshi
memiliki makna sebagai
berikut.
?????????????????????·??·??·
???? ????????
Joshi no bunrui no ichi. Bun ya ku no owari ni mochiite, gimon, kinshi,
eitan, kandou nado no i arawasu joshi.
Terjemahan:
Salah satu kelompok joshi. Digunakan di akhir kalimat atau frasa dan
mengandung makna pertanyaan, larangan, seruan, atau perasaan.
Sebagai bagian dari joshi, shuujoshi (???) yang jika dilihat dari karakter
kanji yang digunakan memiliki arti 'joshi
yang diletakkan di akhir'. Definisi tersebut
diperjelas oleh Sudjianto yang mengatakan:
Joshi yang termasuk
Shuujoshi pada umumnya dipakai setelah
berbagai macam kata pada bagian akhir kalimat untuk menyatakan
suatu pertanyaan, larangan, seruan, rasa haru dan sebagainya. Joshi
yang termasuk termasuk kelompok ini misalnya ka, kashira, na, naa,
zo, tomo, yo, ne, wa, no, dan sa. (Sudjianto, Ahmad Dahidi,2004 :182).
|