Start Back Next End
  
16
Menurut Tadasu dalam dalam Sudjianto:
Shuujoshi
dipakai pada akhir kalimat atau pada akhir
bagian-bagian kalimat
(bunsetsu) untuk menyatakan haru, larangan dan sebagainya.
(Sudjianto, 2000:69).
Menurut Bunkachoo dalam dalam Sudjianto:
Shuujoshi
ialah partikel –
partikel yang dipakai pada bagian
akhir kalimat
untuk menyatakan pertanyaan, rasa heran, keragu-raguan, harapan, atau rasa
haru pembicara seperti partikel
-
partikel ka, na, ne, dan sebagainya.
(Sudjianto, 2000: 70),
Partikel yang termasuk shuujoshi yang sering dipakai dalam pemakaian bahasa
Jepang sehari-hari yakni partikel-partikel: ka, kashira, kke, na/naa, ne/nee, no, sa,
tomo, wa, ya, yo, ze, dan zo.
Dalam kelompok joshi
ini, Masuoka
(1992:53)
mencontohkan
penggunaannya dalam kalimat berikut.
(4) ????????????
      Kyou ha yoi tenki desu ne.
      Hari ini cuacanya bagus, ya.
2.5. Karakteristik Joshi
Dalam buku “Yooten Don: Chuugaku Kokugo Bunpoo yang disunting oleh
Kentaro Aoki (1997: 66-72), disebutkan bahwa karakteristik sebuah joshi (‘partikel’)
adalah sebagai salah satu jenis fuzokugo
(‘kata tugas’) yang selalu menempel pada
jiritsugo
(‘kata penuh’) dalam sebuah bunsetsu
(‘klausa’); atau merupakan tango
(‘morfem’) yang tidak mengalami katsuyoo (‘infleksi’); dan fungsinya adalah untuk
menunjukkan hubungan antar-goku (‘kata-kata dan
frasa-frasa’), seperti hubungan
antara shugo (‘subjek’) dengan shushokugo (‘modifikator’). 
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter