|
25
25
Kebany akan p emilih
men geluhkan
p
anjan gny a antrian dan
butuh
waktu
lama
untuk
memp elajari teknolo gi b aru.
F.
Amerika Serikat
M
enurut
data
Acep roject,
di
Amerika
p
enggunaan
e-voting baru
mencakup
sep ertiga jumlah p emilih. Pada p emilihan p residen tahun 2004,
muncul kegagalan di
sejumlah
temp at
p
emungutan suara, p emilih tidak b isa
memver ifikasi
ap akah
mesin
e-voting benar-b enar mencatat suara
sep erti
y
ang
mereka
maksudkan, disisi
lain
p
etugas
p
emilu p un tidak
mungkin
melakukan p en ghitungan
ulan g.
M
aka
munculah
kekhawatiran
terhadap
keamanan
p
enggunaan
mesin
e-voting. M uncul p ula
p
erdebatan
serius
soal bagaiman a
men jamin
integr itas
hasil p emilih an p residen
y
ang
digelar saat
itu, p ada 2004 p emilu p residen diikuti Geor ge W Bush d ari Rep ublik, dan
John
Kerry
dari
Demokrat. Efek dari
p
ersmasalahan tersebut,
muncul
gagasan
untuk
melen gk api
mesin
e-voting
den gan
teknolo gi
tamb ahan
y
ang
memun gk inkan
suara
y
ang telah masuk dap at diverifik asi, bentukny a berup a struk y ang kelu ar dari
mesin e-
voting
sebagai
bukti
dalam
p
emilu.
Teknolo gi
in i
k
emudian
biasa
dik enal
den gan
sebutan (voter verifiable
paper
aud it trail,
VVPAT),
saat
itu
sebany ak tujuh
negara
bagian lan gsun g
men gajukan
und an g-undan g
men gadop si
VVPAT,
dan
14
n
egara
bagian lain men gajuk an legislasi y an g sama. An ggota House of Representatives (DPR
federal) p un
akhirny a
memp ertimbangk an
untuk
mereformasi
e-voting den gan
menamb ahkan
VVPAT.
M
eski demikian p ersoalan e-voting
di Amer ika tidak terbatas
p
ada p ersoalan
mesinny a. Lap oran Electronic
Frontier Foundation (EFF) meny ebutkan
p
ersoalan
|