|
4
semakin
hari semakin
besar,
diikuti
dengan
harga
minyak
yang
semakin
melambung,
karena
batu
bara
berperan
besar
menjadi
energi
pengganti
yang
effisien
dan
ekonomis.
Menurut
Singgih
dari
Masyarakat
Batubara
Indonesia
yang
dikutip
di
majalah
Investor
bulan April 2011, batu bara tak sekedar komoditas ekonomi, tetapi juga economic
booster.
Selain
itu,
menurut
data
dari
Ditjen
Minerba,
saat
ini batu
bara
juga
sudah
merupakan
revenue
driver
di Indonesia.
Hal tersebut
disebabkan
karena
setiap
kenaikan
US$1
per ton batu
bara,
akan
memberikan
kenaikan
pendapatan
negara
bukan
pajak
(PNBP)
batu
bara
sebesar
Rp361
miliar.
Sementara
PNBP
dari
mineral
dan
batu
bara
tahun 2010 tercatat sebesar Rp18,7 triliun, naik 22% dari
tahun 2009 yang sebesar
Rp15,3
triliun.
Kenaikan
komoditas
batu
bara
mengikuti
kenaikan
harga
minyak
dunia,
karena batubara adalah komoditas subtitusi minyak.
Permintaan
batubara
ke depan
akan
mengalami
peningkatan
yang
cukup
besar.
Menurut
Makmun
dari
Peneliti
Utama
Badan
Kebijakan
Fiskal,
Kementerian
Keuangan
(www.majalahtambang.com) permintaan
batu
bara
dapat
diukur
berdasarkan
kebutuhan
impor
batu
bara
dari
beberapa
negara
maju
maupun
negara
berkembang.
Berdasarkan
data yang dirilis oleh Merrill Lynch 8 Juni 2010, kebutuhan
impor batu bara pada tahun
2009 mencapai
591
metrik ton
(Mt),
tahun
2010
diperkirakan
naik
menjadi
635
Mt
dan
pada
tahun
2015
diperkirakan
akan
naik
menjadi
803
Mt.
International
Energy
Agency
(IEA)
memprediksi
pada
1990
total
konsumsi
batubara
dunia
baru
mencapai
3.461
juta
ton,
pada
2007
meningkat
menjadi
5.522
juta
ton
atau
meningkat
sebesar
59,5%,
atau
rata-rata 3,5% per
tahun. Kontribusi batu
bara
untuk pembangkit
listrik dunia
diperkirakan
akan meningkat
dari 41% pada 2006 menjadi
46% pada 2030.
Meningkatnya
peran
batu
bara sebagai
pemasok
energi
di
masa-masa
mendatang
membuat
industri
ini memiliki
daya
tarik
yang
sangat
besar
bagi
para
investor
tak
terkecuali di Indonesia.
|