|
20
c. Anastrof atau Inversi; gaya retoris yang diperoleh dengan pembalikkan
susunan kata yang biasa dalam kalimat.
d.
Apofasis
atau
Preterisio; gaya bahasa di mana penulis atau pengarang
menegaskan sesuatu, tetapi tampaknya menyangkal.
e. Apostrof; berbentuk pengalihan amanat dari para hadirin kepada sesuatu yang
tidak hadir.
f.
Asindeton;
berupa
acuan,
yang
bersifat
padat
dan
mampat
di
mana
beberapa
kata, frasa atau klausa yang sederajat tidak dihubungkan dengan kata sambung.
g.
Polisidenton;
merupakan
kebalikan
dari
asindenton.
Beberapa
kata,
frasa
atau
klausa yang berurutan dihubungkan satu sama lain dengan kata-kata sambung.
h.
Kiasmus;
gaya
bahasa
yang
terdiri
dari
dua
bagian,
baik
frasa
atau
klausa,
yang sifatnya berimbang, dan dipertentangkan satu sama lain, tetapi susunan
frasa
atau
klausanya
itu terbalik
bila
dibandingkan
dengan
frasa
atau
klausa
lainnya.
i.
Elipsis;
gaya
yang berwujud
menghilangkan suatu
unsur kalimat
yang dengan
mudah dapat diisi atau ditafsirkan sendiri oleh pembaca atau pendengar,
sehingga struktural gramatikal atau kalimatnya memenuhi pola yang berlaku.
j.
Eufimismus;
acuan
berupa
ungkapan-ungkapan
yang
tidak
menyinggung
perasaan orang, atau ungkapan-ungkapan yang halus untuk menggantikan
acuan-acuan yang mungkin dirasakan menghina, menyinggung perasaan atau
mensugestikan sesuatu yang tidak menyenangkan.
k.
Litotes; gaya bahasa yang dipakai untuk menyatakan sesuatu dengan tujuan
merendahkan diri.
l.
Histeron
Proteron;
gaya bahasa
yang
merupakan keblikan dari
sesuatu
yang
logis atau kebalikan dari sesuatu yang wajar.
m.
Pleonasme
dan
Tautologi;
acuan
yang
mempergunakan
kata-kata
lebih
banyak daripada yang diperlukan untuk menyatakan satu pikiran atau gagasan.
n.
Perifrasis;
mirip
dengan
pleonasme,
yaitu
mempergunakan
kata
lebih
banyak
dari yang diperlukan padahal kata-kata yang berlebihan itu sebenarnya dapat
diganti dengan satu kata saja.
o.
Prolepsis
atau
Antisipasi;
gaya bahasa di
mana orang
mempergunakan
lebih
dahulu
kata-kata
atau
sebuah
kata
sebelum peristiwa
atau
gagasan
yang
sebenarnya tejadi.
p.
Erotesis atau Pertanyaan Retoris; pertanyaan yang dipergunakan dalam
pidato atau
tulisan dengan tujuan
untuk
mencapai egek
yang
lebih
mendalam
|