![]() Cui, 2005). Pati singkong sering digunakan sebagai bahan tambahan dalam industri
makanan dan industri yang berbasis pati k arena kandungan patinya yang cukup
tinggi (Niba, 2006 dalam Hui, 2006).
Tabel 2.1. Kandungan pati pada beberapa bahan p angan
Bahan Pangan Pati (% dalam basis kering)
Jagung
57
Biji Gandum
67
Biji Sorghum 72
75
Kentang
Beras
89
Ubi Jalar
90
Singkong
90
Menurut Biro Pusat Statistik (2009), produksi tanaman ubi kayu di Indonesia pada
tahun 2008 sebesar 20.834.241 ton. Melihat kandungan pati pada singkong sebesar
90%, maka pada tahun tersebut dapat menghasilkan 18.750.816,9 ton pati singkong.
Produksi pati yang tinggi, penanamannya yang mudah, dan mudah didapatkan di
Indonesia menjadikan singkong sangat potensial dijadikan sebagai bahan dasar
edible film.
Pati terdiri dari dua fraksi yang dapat dipisahkan dengan air panas. Fraksi terlarut
disebut amilosa dan fraksi tidak larut
disebut amilopektin (Winarno, 1984). Pati
dapat diekstrak dengan berbagai cara, berdasarkan bahan baku dan penggunaan dari
pati itu sendiri. Untuk pati dari ubi-ubian, proses utama dari ekstraksi terdiri
perendaman, disintegrasi, dan sentrifugasi. Perendaman dilakukan dalam larutan
natrium bisulfit pada pH yang diatur untuk menghambat reaksi biokimia seperti
perubahan warna dari ubi. Disintegrasi dan sentrifugasi dilakukan untuk memisahkan
pati dari komponen lainnya (Liu, 2005 dalam Cui, 2005).
|