Home Start Back Next End
  
47
1.
Transcendental
approach
Dalam
perspektif
ini,
kualitas
dipandang
sebagai
innate
excellence,
yaitu
sesuatu yang
secara
intuitif
bisa
dipahami
namun nyaris
tidak mungkin
dikomunikasikan.  Perspektif  ini  menegaskan  bahwa  orang  hanya  bisa
belajar
memahami
kualitas
melalui
pengalaman yang
didapatkan
dari
eksposur berulang kali (repeated exposure).
2.
Product-based approach
Perspektif
ini mengasumsikan
bahwa
kualitas
merupakan
karakteristik,
komponen
atau
atribut
obyektif
yang dapat
dikuantitatifkan
dan
dapat
diukur.
Perbedaan dalam hal
kualitas
mencerminkan
perbedaan
dalam
jumlah
beberapa
unsur atau
atribut
yang
dimiliki
produk. Semakin
banyak
atribut yang dimiliki sebuah produk atau merek, semakin berkualitas produk
atau
merek
bersangkutan.
Karena
perspektif
ini
sangat objektif,
maka
kelemahannya adalah tidak bisa menjelaskan perbedaan dalam selera,
kebutuhan, dan preferensi individual.
3.
User-based approach
Perspektif
ini didasarkan pada
pemikiran
bahwa
kualitas
bergantung
pada
orang yang menilainya (eyes of the beholder), sehingga produk yang paling
memuaskan 
preferensi 
seseorang 
merupakan 
produk 
yang 
berkualitas
paling  tinggi.  Perspektif 
yang  subjektif  dan  demand-oriented ini  juga
menyatakan
bahwa
setiap pelanggan
memiliki
kebutuhan
dan
keinginan
masing-masing
yang
berbeda
satu sama
lain, sehingga
kualitas
bagi
seseorang adalah sama dengan kepuasan maksimum yang dirasakannya.
4.
Manufacturing-based approach
Perspektif
ini
bersifat
suppy-based
dan
lebih
terfokus
pada
praktik-praktik
perekayasaan
dan
pemanufakturan,
serta
mendefinisikan
kualitas
sebagai
Word to PDF Converter | Word to HTML Converter