|
13
Teh
merupakan
minuman yang paling banyak diminum di seluruh dunia
setelah
air
putih.
Dibaliknya
pun
teh
menyimpan
cerita
yang
begitu
beragam dan
menakjubkan serta menyimpan beberapa cerita mengenai kehidupan sosial serta
sejarah budaya dari beberapa negara. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya,
legenda di Cina menyatakan bahwa teh pertama
kali ditemukan oleh kaisar Shen
Nung. Akan tetapi, sangat sulit untuk mengetahui apakah kaisar Shen Nung benar-
benar
ada
atau
ia
hanyalah
sebuah
tokoh legenda
rekaan
yang
diciptakan
oleh
masyarakat setempat yang bergerak di dunia pertanian dan herbal pada masa cina
kuno. Tidak ada bukti yang menyebutkan bahwa kaisar ini benar-benar ada.
Namun, apapun cerita asal usulnya,
fakta
memang
membuktikan
bahwa
minuman
teh
berasal
dari
cina
dan
telah
populer
di
Cina sejak
zaman
dahulu.
Bagaimanapun, tidak ada catatan mengenai daun teh hingga abad 3 sebelum
masehi.
Hingga abad 3 sesudah
masehi,
minuman teh digunakan sebagai obat atau
minuman tonik. Popularitas teh di Cina menaik dengan drastis pada abad ke 4
hingga 5, pada saat itu, daerah lembah di sungai Yangtze pun ditetapkan menjadi
tempat perkebunan teh. Teh yang dulunya hanya merupakan hadiah untuk kaisar
mulai semakin populer dan bermunculan dimana-mana,
seperti
di
penginapan,
di
toko
yang
menjual
minuman
anggur/
wine, dan
di
rumah-rumah
makan
seperti
warung mie.
Teh menjadi alat tukar barter dengan orang-orang turki pada tahun 476 sesudah
masehi. Para saudagar serta pedagang teh menjadi kaya raya pada masa itu. Perajin
tanah liat, perak, dan emas pun kian
bermunculan untuk memenuhi permintaan
pasar untuk peralatan-peralatan mengeteh. Mereka memproduksi alat-alat minum
teh yang elegan dan dijual dengan
harga yang sangat mahal. Pada saat itu,
peralatan teh yang mahal dan elegant menjadi penunjuk akan status serta kekayaan
seseorang yang memilikinya. Tahun-tahun yang berwarna pada Dinasti Tang (618-
906
masehi)
sering
disebut
sebagai
tahun
keemasan
bagi
teh.
Teh
pada
saat
itu
tidak lagi diminum sebagai obat atau tonik, tapi diminum untuk kesenangan karena
efek
menyegarkan
yang
dimilikinya.
Persiapan
serta
penyuguhannya
dikembangkan menjadi sebuah upacara yang khusuk, sementara
pemanen dan
pemprosesan daun teh dikontrol dengan ketat oleh aturan yang mengikat yaitu
mengenai siapa yang harus memanen, kapan dan bagaimana daun teh
dikumpulkan, bagaimana daun teh yang sudah dipetik harus ditangani dan bahkan
para gadis muda pemetik teh juga harus menjaga konsumsi
makanannya, mereka
dilarang keras untuk mengkonsumsi
bawang putih, bawang bombay, dan bumbu-
bumbu lainnya untuk berhati-hati agar tidak ada bau yang menempel pada jari
jemari mereka; sebab jika ada bau yang
menempel, bau tersebut dapat
mengkontaminasi wangi alami dari daun teh tersebut.
Teh
menjadi
sangat
penting
bagi
para
pedagang
dan
untuk
pertama
kalinya
buku
mengenai
teh
diterbitkan oleh
penulis
bernama
Lu
Yu
(733-804).
Bukunya
berjudul Cha
Chang
yang
artinya
the
classic
of
tea.
Buku
tersebut
menjelaskan
berbagai aspek
mengenai teh
mulai dari asal
muasal
tanaman tersebut,
|