|
14
karakteristiknya,
varietas,
cara
memproses daun teh hingga menjadi teh, alat-alat
yang
dibutuhkan
untuk
mengeteh,
cara
menyeduh minuman tersebut, kualitas air
yang digunakan, manfaat teh sebagai minuman kesehatan, dan tradisi dalam
meminum teh.
Pada
masa
Dinasti
Tang,
daun-daun
muda
dipetik,
dipanaskan,
dihancurkan,
dan dicampur dengan jus buah plum (jus ini untuk merekatkan partikel-partikel,
berfungsi seperti
lem natural) lalu diaduk
hingga berbentuk pasta.
Teh
yang sudah
berbentuk pasta
tersebut
akan dituang
ke
dalam cetakan
dan
dikompres
atau
dipadatkan
hingga
menjadi berbentuk bulat atau kotak
yang padat dan
menyerupai
kue
sehingga
kerap
disebut
tea
cake. Teh
berupa
cake ini
akan
dipanggang
hingga kering. Untuk menyeduh secangkir teh, tea cake tersebut dibakar di atas api
hingga menjadi cukup lunak untuk dihancurkan menjadi bubuk,
lalu didihkan di
dalam air.
Di
beberapa
daerah
di
Cina,
garam
ditambahkan
ke
dalam
teh
untuk
memberikan rasa pahit sesudah meminumnya. Rasa-rasa yang umum ditambahkan
ke
dalam teh
pada
masa
itu
adalah
bumbu-bumbu
dapur,
jahe,
kulit
jeruk,
pepermint,
dan
lain-lain.
Bahan-bahan
tersebut
dimasukkan
ke
dalam wadah
minuman sebelum teh diseduh dengan air mendidih.
Pada jaman Dinasti Song (960-1297 M) teh yang dikompres digiling menjadi
bubur dan dikocok atau diaduk di dalam air
mendidih sehingga
menjadi
minuman
yang
berbuih.
Setelah
meminum
cangkir
pertama,
ditambahkan
lagi
air
mendidih
ke dalam bubuk teh, diaduk dan diminum dan diulang
hingga 7 kali. Penambahan-
penambahan bumbu-bumbu dapur seperti
yang dilakukan pada jaman Dinasti
Tang
mulai kurang diminati
lagi pada jaman Dinasti Song ini. Saat itu, penambahan
bahan-bahan dengan aroma bunga seperti melati, lotus dan bunga
chrysantemmum
lebih disukai. Hingga pada saat jaman Dinasti Ming (1368-1644 M), semua teh
yang
diproduksi
hingga
saat
itu
adalah
jenis
teh
hijau.
Teh
pada
jaman
Dinasti
Ming
ini
pun
tidak
lagi
dipadatkan
menjadi
bentuk
kue,
akan
tetapi
dibiarkan
lepas,
dipanaskan,
dan
dikeringkan.
Akan tetapi,
daun
teh
yang
kering
dan
tidak
dikompress tersebut menjadi lebih mudah kehilangan aroma serta rasa
jika tidak
disimpan
dengan
baik.
Hal
ini
tentu
harus
segera
diakali
mengingat
pada
saat
itu
teh menjadi alat tukar perdagangan yang harus dibawa-bawa hingga ke Eropa.
Karena permintaan pasar Eropa yang terus melonjak, maka orang-orang cina yang
ingin
mendapatkan
banyak
untung
pun
mencari-cari
cara.
Akhirnyam mereka
menemukan proses pembuatan teh hitam. Pada zaman itu pun bangsa Eropa
percaya bahwa teh hitam dan teh hijau berasal dari tanaman yang berbeda, padahal
keduanya berasal dari tanaman yang sama. Para produsen teh di jaman Ming
menemukan bahwa mereka dapat menfermentasikan
teh
dan
membuat
minuman
tersebut menjadi lebih pekat warna serta aromanya. Daun teh yang telah diproses
pun akan berubah
menjadi
gelap warnanya. Teh
hitam ini pun ternyata
lebih cocok
pada lidah
masyarakat Eropa yang memang
menyukai
minuman
yang pekat,
dengan
aroma
yang
kuat.
Teh
hitam pun
menjadi
lebih
populer
karena
wanginya
yang memang lebih kuat dan lebih harum daripada teh hijau.
|