|
16
abad
kedelapan
belas
beralih
dari kebiasaan
meminum
kopi
dengan
teh.
Kebun
teh
pun
menjadi
tempat
yang
menyenangkan
dan
kerap
kali
dijadikan sebagai tempat pertemuan sosial.
Pada tahun 1644, East India Company yaitu perusahaan perdagangan
Inggris
dibawah
pemerintahan
Ratu Elizabeth
I
membuka
kantor
di
Xiamen. Pada
masa
itulah, daun Teh dikenal
umum sebagai
minuman
yang
diseduh
dengan
air
panas.
Pada
tahun
1669, East
India
company
mendapatkan lisensi mendatangkan komoditas Teh dari Cina ke Inggris
dengan menggunakan kapal Elizabeth I selama sembilan tahun
memonopoli perdagangan teh sampai dengan tahun 1833.
Bagian cukup
menarik dari kisah perdagangan teh oleh bangsa Inggris
adalah
ketika East India Company
pada tahun 1773 boleh berdagang teh
langsung dari Cina ke Amerika (Amerika pada saat itu masih termasuk
dalam koloni
bangsa
Inggris
)
dengan
memotong
jalur
perdagangan
dan
perpajakan yang merugikan exportir Eropa dan Importir Amerika.
Pemerintah Inggris pun menetapkan pajak yang sangat tinggi terhadap
barang-barang mewah seperti teh. Masyarakat Amerika memprotes dengan
gigih
atas
kenaikan
pajak
yang
sangat tinggi
ini.
Beberapa
pajak
memang
dihapuskan,
tetapi
bea impor
atas
barang-barang
mewah
seperti
teh
yang
dulunya masih merupakan barang mewah dinaikan. Masyarakat Amerika
tidak memiliki
seorang
wali
untuk
membawa
kasus
mereka
secara
demokratis ke parlemen di London, sehingga mereka
memutuskan untuk
mengambil tindakan langsung sendiri. Pada
saat
kapal
pengangkut
komoditas teh
merapat di pelabuhan kota Boston,
maka serentak penduduk
kota tersebut menaiki kapal dan membuang seluruh peti yang berisi
komoditas teh kedalam laut. Peristiwa
itu dikenal sebagai Boston Tea Party
yang
berakibat
pula
tercetusnya revolusi
Bangsa
Amerika
terhadap
penjajahan bangsa Inggris. Sejak itu
bangsa
Amerika
tidak
lagi
meminum
teh dan sebagai pengganti teh
mereka
meminum kopi. Hal
inilah
juga
yang
membuat mengapa masyarakat di Amerika lebih memilih kopi.
Pada sekitar tahun 1800-an, teh celup ditemukan secara tidak sengaja.
Thomas
Sullivan
merupakan
seorang
pengimpor
teh
dari New
York.
Ia
mengirimkan
contoh
teh
kepada
para pelanggannya
dalam
kantung
kecil
yang terbuat dari sutra.
Ternyata pelangganya menyukai cara
tersebut
karena penggunaannya yang lebih praktis dan
mudah. Selanjutnya,
mereka
menghendaki
semua
teh
yang
dikirim
untuk
dikemas
dalam
sebuah
kantung.
2.2.1.2. Budaya Teh di Indonesia
|