|
17
Teh
dikenal
di
Indonesia
sejak
tahun
1686
ketika
seorang
Belanda
bernama Dr. Andreas Cleyer membawanya ke Indonesia yang pada saat itu
penggunaannya hanya sebagai tanaman hias. Baru pada tahun 1728,
pemerintah Belanda mulai memperhatikan Teh dengan mendatangkan biji-
biji teh secara besar-besaran dari Cina untuk dibudayakan di pulau Jawa.
Usaha
tersebut
tidak
terlalu
berhasil
dan
baru
berhasil
setelah
pada
tahun
1824 Dr. Van Siebold seorang ahli bedah tentara Hindia Belanda yang
pernah melakukan penelitian alam di Jepang mempromosikan usaha
pembudidayaan
dengan
bibit
teh
dari
Jepang.
Usaha
perkebunan
teh
pertama
dipelopori
oleh
Jacobson
pada tahun
1828
dan
sejak
itu
menjadi
komoditas yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda. Pada masa
pemerintahan Gubernur Van Den Bosh,
teh
menjadi
salah
satu
tanaman
yang
harus
ditanam rakyat
melalui
politik
Tanam
Paksa
(Culture
Stetsel).
Pada masa kemerdekaan, usaha perkebunan dan perdagangan teh diambil
alih
oleh
pemerintah
RI.
Sekarang, perkebunan dan perdagangan teh juga
dilakukan oleh pihak swasta.
Jauh sebelum tanaman
teh
masuk ke Indonesia, Tegal
sudah
memiliki
budaya
minum teh
yang berakar dari Cina. Pada sekitar abad ke-17, daerah
pantai utara Jawa Tengah, termasuk Tegal, merupakan jalur perdagangan
yang
ramai
karena
Tegal
memiliki
pelabuhan
besar.
Sebelum ada
tanaman
teh di Indonesia, teh yang dikonsumsi
di Tegal didatangkan langsung dari
Cina. Setelah tanaman teh
masuk ke Indonesia, produk teh yang berkualitas
sebagian besar diekspor ke Belanda dan Eropa, sementara teh sisa yang
mutunya
rendah
diambil
oleh
para
pekerja pribumi. Kondisi tersebut
membentuk
selera
konsumsi
masyarakat
Tegal terhadap teh. Sampai
sekarang mereka terbiasa meminum teh yang sepat dan pekat. Rasa sepat
pada teh berasal dari batang teh yang ikut digiling bersama dengan daun teh
sehingga menghasilkan teh berkualitas rendah. Dalam perkembangan
selanjutnya, teh di Tegal kemudian diolah dengan
aroma bunga
melati agar
lebih
enak
dinikmati.
Teh
yang
ada
di
Tegal
ini
diminum dengan
menggunakan
poci
yang
terbuat
dari
tanah
liat
dengan
ukuran
personal.
Satu teko hanya untuk 2 cangkir saja.
Keunikan teh poci adalah sebelum
digunakan, poci teh direbus dulu bersama
dengan air teh untuk
menghilangkan bau tanah. Untuk membersihkan poci, tidak perlu
digunakan sabun, cukup dibilas saja. Jika ada kerak yang mengempel pada
poci juga sebaiknya jangan dibuang, karena rasa khas poci akan timbul dari
kerak tersebut. Selain itu, gula pada teh poci menggunakan gula batu dan
tidak boleh diaduk, melainkan cukup digoyangkan sedikit cangkirnya. Hal
ini
memiliki
filosofi
tersendiri
yaitu hidup ini
awalnya memang pahit,
namun
kita
harus
bersabar,
sehingga
di akhir
nanti
kita
akan
mendapatkan
manisnya.
Rasanya
pun
menjadi khas dengan
sebutan
Wasgitel
yaitu
wangi, sepet, legi, kentel atau wangi, sepat, manis, kental.
Budaya
di
kota
Jogja
juga
mirip
dengan
di
Tegal.
Setiap
malam,
terutama
sepanjang
jalan Malioboro, akan terlihat banyak sekali tempat-
tempat
minum teh
yang
biasa
disebut
angkringan.
Masyarakat
dari
berbagai
kalangan
dan
status
sosial
seperti
pengemudi
becak,
pedagang
|