|
18
asongan,
seniman
dan
pelajar/mahasiswa,
tak
segan-segan
berkumpul
dan
mengobrol dengan santainya di tempat ini.
Angkringan
ini
awalnya
hanya
tempat
untuk
minum teh
sambil
mengaso, tetapi pada perkembangannya, angkringan juga berfungsi sebagai
warung
makan
sekaligus
tempat
bersantai. Walaupun sudah tersedia aneka
macam
makanan
dan
minuman,
wedang
teh
tetap
menjadi
menu
utama
dari angkringan ini. Minuman teh yg menjadi favorit para pengunjung
adalah Nasgitel, kepanjangan dari panas-legi-kenthel atau panas-manis
dan kental. Nasgitel menggunakan teh merah atau teh hitam yang
dipadu dengan gula batu yang sangat manis. Penyajiannya biasanya
berupa kotokan (daun teh kering) yang diseduh dengan air mendidih,
disajikan dalam gelas plus beberapa butir
gula batu
yang disajikan terpisah.
Setelah seduhan teh dihidangkan, pelanggan biasanya segera
mencemplungkan gula batu kedalamnya. Proses ini sampai dengan wedang
teh siap diminum memerlukan waktu sekitar 10 menit, sambil menunggu
biasanya
pelanggan
akan
menikmati
makanan
kecil
seperti
ketela
goreng,
pisang goreng, singkong rebus, uli (juadah) dan lain sebagainya.
Demikian
juga
mengenai
kebiasaan
minum teh
di
tataran
Sunda.
Dahulu,
mereka
meminum teh
memakai
mangkok
dari
batok
kelapa
dan
tatakan dari bambu sambil menghangatkan badan di dekat perapian.
Kebiasaan ini biasa disebut sebagai nganyeut. Sedangkan di wilayah
Jawa Timur khususnya Surabaya, walaupun di daerah lawang-wonoasri
Jatim terdapat
berhektar-hektar
kebun
teh,
minuman
ini
masih
dianggap
sesuatu
yang
mewah
untuk
menyuguhi tamu. Dan sampai saat ini, jika teh
disajikan tanpa gula adalah minuman aneh, tidak mengherankan jika teh
hijau kemasan yang non sugar di supermarket-
supermarket
di
surabaya
selalu rapi tak tersentuh.
Jika dilihat dari nilai filosofi, sosial, agama dan seni, kebiasaan minum
teh di
masyarakat kita tidak bisa di sepadankan dengan budaya Jepang dan
China. Untuk mereka, minum teh adalah satu seni yang mempunyai banyak
sekali aturan dan tata cara yang harus dilalui. Sebenarnya, cara meminum
teh di Indonesia yang menggunakan Poci tanah liat (Teh Poci), juga
memiliki nilai lebih, karena didalamnya juga mengandung filosofi. Hanya
saja kebiasaan
ini
memang belum memberikan apresiasi
lebih terhadap
teh
itu sendiri. Di Indonesia beberapa jenis teh biasanya di tambah dengan
bahan lain untuk memberikan aroma yang berbeda, salah satunya adalah
bunga melati. Teh wangi melati, adalah teh yang menggunakan bahan dasar
teh hijau (diambil dari Jawa barat), kemudian ditambahkan bunga melati
sehingga
teh
tersebut
menjadi
beraroma melati.
Kualitas
teh
hijau
yang
digunakan sebagai bahan dasar teh
melati ini memang bukan kualitas teh
yang
bagus
karena
teh
yang
digunakan
berasal dari daun teh yang tua,
hancur, bahkan
batangnya
ikut diproses. Sehingga,
walaupun
masih
fresh
|