|
25
Six Sigma
2.3.1
Sejarah Six Sigma
Pada permulaan tahun 1980-an, Motorola secara
terus
menerus dikalahkan di
pasar
yang
kompetitif yang
pada
akhirnya
mereka
kehilangan
marketnya
karena
perbedaan kualitas dibandingkan dengan perusahaan
Jepang
pada
saat
itu
(Pyzdek,2002). Saat perusahaan Jepang mengambil alih Motorola yang memproduksi
pesawat
televisi
di
Amerika
Serikat,
mereka
dengan
cepat
menetapkan
perubahan
yang
drastic
dalam menjalankan
perusahaan,
Di
bawah
manajemen
Jepang,
perusahaan segera memproduksi televisi dengan
jumlah kerusakan satu dibandingkan
dua puluh
yang
mereka pernah produksi di bawah
manajemen Motorola. Pada tahun
1981, Motorola menghadapi tantangan tersebut dengan mengevaluasi
kualitasnya
hingga
5
kali
dalam 5
tahun
namun
tetap
saja
tidak
berhasil.
Kemudian
Motorola
dengan Bob Galvin sebagai CEOnya memutuskan untuk menekuni kualitas dengan
serius dengan mengembangkan suatu proses yang konsisten berdasarkan pendekatan
statistik.
Akhirnya pada tahun 1986, Bill Smith, seorang ahli dan senior engineer di
Divisi Komunikasi Motorola yang juga seorang ahli statistik, menyimpulkan bahwa
bila suatu produk cacar dan diperbaiki pada
waktu produksi maka cacat-cacat lain
mungkin akan terabaikan (Brue,2002). Dengan kata
lain,
rata-rata kegagalan proses
jauh
lebih
tinggi
ketimbang
yang
ditunjukan oleh tes-tes akhir produk. Bila produk
dirakit
secara
sama
sekali
bebas
cacat,
mungkin
produk
itu
kelak tidak
akan
mengecewakan pelanggan. Dari sinilah Six Sigma bertolak, Dr Mikael J Harry,
|